Suaka Gajah; Salah Satu Opsi Mitigasi Konflik

Suaka Gajah-1HUTAN Aceh merupakan habitat Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), setiap tahunnya tutupan hutan Aceh mengalami pengurangan luas, sejak tahun 2006 – 2010 kurang lebih 40 ribu hektar hutan Aceh terdeforestasi setiap tahunnya, dari luar dan dalam kawasan hutan (Analisis spatial FFI Aceh, 2011). Pengurangan luas tutupan hutan Aceh disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia, antara lain; illegal logging, konsesi perkebunan dan pertambangan, pembukaan jalan didalam kawasan hutan.

Berkurangnya luas tutupan hutan Aceh berdampak terhadap meningkatnya intensitas konflik satwa dan manusia, terutama species Gajah sumatera. Hutan yang menjadi habitat Gajah telah terfragmentasi, demikian juga dengan koridor atau lintasan gajah tidak terkoneksi satu dengan yang lain.  Baca lebih lanjut

ADA “PEMBANGKANGAN” DI KEL?

Q19_2013

Berpolemik Yang Tidak Cerdas

TIGA Tahun Aceh berpolemik, berkutat dengan substansi Qanun Nomor 19 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh 2013-2033, khususnya terkait tidak dimasukkannya nomenklatur “Kawasan Ekosistem Leuser” sebagai kawasan strategis nasional yang berada di Aceh oleh legislator yang menyusun Qanun tersebut. Tidak ditemukan alasan yang ‘scientific’ dan ‘yuridis’ tidak dimasukan-nya KEL kedalam Qanun RTRWA.

Pertama, Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Pasal 150 ayat 1 menyebutkan bahwa pemerintah menugaskan Pemerintah Aceh untuk melakukan pengelolaan Kawasan Ekosistem Leuser di wilayah Aceh. Akan tetapi Qanun Aceh No. 19 Tahun 2013 Tentang RTRW Aceh tidak memasukkan istilah atau nomenklatur Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di dalam qanun tersebut. Baca lebih lanjut