Pembayaran Jasa Lingkungan

Oleh Dewa Gumay

DINAMIKA issue lingkungan pada dekade ini, mengalami perkembangan sangat cepat, mulai dari issue degradasi lingkungan, konservasi, dan yang paling baru adalah skema tentang pembayaran terhadap jasa lingkungan atau dikenal dengan Payment for Environmental Services (PES).

Walaupun sebenarnya landasan teori tentang PES telah muncul puluhan tahun lalu dari seorang ekonom Britania Raya dan Profesor Ekonomi di Universitas Chicago, Ronald Harry Coase dalam artikelnya The Problem of Social Cost pada tahun 1960, atas karyanya tersebut Coase menerima hadiah Nobel bidang ekonomi pada tahun 1991. menurut Coase, sejauh kerugian lingkungan bersifat moneter maka solusi optimal yang tercapai akan sama, terlepas dari kepada siapa property rights diberikan.

Perkembangan issue PES telah melahirkan banyak diskusi dan kajian dari banyak pihak, dinamika ini kemudian memunculkan beragam pemahaman, pada akhirnya akan melahirkan banyak distorsi yang cenderung bergeser dari tujuan PES sebenarnya. Pertanyaan yang paling penting dan mendasar adalah mengupas tentang apa itu PES, mengapa, bagaimana, dan kapan PES bisa diimplementasikan, tulisan ini sedikit mendedah tentang pertanyaan kunci tersebut.

Menurut Sven Wunder peneliti CIFOR, PES dapat diterjemahkan sebagai skema pemberian imbalan kepada penghasil jasa untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas jasa lingkungan, bukan merupakan pembayaran kepada ekosistem itu sendiri. Secara formal Wunder mendefinisikan PES dengan sangat ketat, yaitu transaksi yang dilakukan hanya bersifat sukarela, karena membayar atau tidak jasa lingkungan tersebut tetap mengalir. Idealnya, pembayar adalah pengguna jasa lingkungan, sedangkan penerima adalah penghasil jasa lingkungan.

Pada kongres Watersheed Management tahun 2003 untuk negara ketiga di Amerika Latin, PES diterjemahkan sebagai mekanisme kompensasi dimana penyedia jasa lingkungan (service providers) dibayar oleh pengguna manfaat jasa lingkungan (service users). Sementara untuk jasa air dan perlindungan DAS, PES didefinisikan sebagai penerapan atau implementasi mekanisme pasar, pemberian kompensasi kepada masyarakat pemilik lahan di hulu untuk mengkonservasi dan tidak merubah peruntukan lahan-lahan yang berpengaruh terhadap ketersediaan atau kualitas sumberdaya air di hilir.

Mengapa menggunakan skema PES? Tujuan PES adalah mendorong pemanfaatan sumberdaya alam yang lebih efisien dan bertanggungjawab. Tanpa ada intervensi langsung dari publik, ancaman terhadap kerusakan lingkungan akan semakin meningkat, ketersediaan jasa lingkungan akan menjadi langka, dan muncul berbagai persoalan lingkungan, seperti; banjir, kekeringan, tanah longsor, pemanasan global. Masyarakat didorong untuk menerima tanggung jawab pengelolaan ekosistem yang lestari dan menghilangkan insentif yang salah dalam menggunakan sumberdaya.

Harga yang terlalu murah mendorong orang untuk mengkonsumsi terlalu banyak dari yang seharusnya sehingga menimbulkan inefisiensi dan kerusakan lingkungan. PES diharapkan dapat mengkoreksi penyimpangan terhadap harga jasa lingkungan yang terlalu rendah, yakni nol ketika tidak ada pembayaran jasa lingkungan.

Walaupun sebenarnya ada beberapa koreksi tentang pandangan menempatkan PES-air kedalam mekanisme pasar, karena dalam konteks Indonesia. Hak atas air adalah hak konstitusi setiap warga negara atau barang publik, walaupun sebenarnya jika mengacu kepada model pengelolaan air yang dilakukan oleh Pemerintah melalui PDAM, merupakan bagian dari pengertian PES, tetapi publik hanya membayar kompensasi atas pengolahan air yang dilakukan PDAM. Sementara PDAM sendiri tidak pernah memberikan kompensasi kepada penyedia air baku yang berasal dari hulu Sungai. Padahal secara ekonomis, PDAM telah mengambil manfaat secara komersial dari ketersediaan air yang berasal dari hulu.

Sementara itu Doribel Herrador dan Leopoldo Dimas, peneliti disiplin ilmu Agronomist dan environmental economics dari El Salvador, membedakan antara PES dari insentif, menurutnya insentif berjangka pendek, sementara PES bersifat permanent selama jasa lingkungan yang dimaksud terus mengalir. Doribel dan Dimas banyak membedah studi kasus PES di El Salvador dalam berbagai publikasinya tentang PES. Tanpa bermaksud membedakan keduanya, karena hanya dipisahkan oleh benang tipis, sehingga PES tidak menjadi Perverse Incentive atau menentang incentif yang diberikan.

Implementasi PES

Bagaimana mengimplementasikan PES adalah proses yang paling sulit, beberapa kelompok berpandangan bahwa PES harus dilaksanakan secara sukarela (Voluntary Basis). Artinya, transaksi antara penyedia jasa lingkungan dengan pengguna jasa dilakukan secara bebas tanpa tekanan. Atau bisa diibaratkan transaksi barang dan jasa di pasar.

Dalam beberapa studi kasus, Daerah Aliran Sungai dapat diimplementasikan sebagai PES, daerah hulu DAS adalah penghasil jasa lingkungan, sedangkan daerah hilir DAS adalah pengguna jasa lingkungan. Dalam konteks daerah hulu, skema pembayaran jasa lingkungan dapat dibayarkan jika ada upaya secara serius dan simultan dalam menjaga produktifitas dan kualitas jasa lingkungannya, dalam hal ini adalah air, ketersediaan dan kualitas air sangat bergantung dari kualitas tutupan hutan dan pola eksplotasi di badan sungai.
Sedangkan dalam konteks hulu, pengguna air dapat dikategorikan sebagai penerima manfaat atau pihak yang harus membayar, apakah dalam bentuk pemakaian langsung, seperti PDAM atau industri dan perhotelan yang mempunyai pengolahan air baku, atau kepada penerima tidak langsung, seperti rumah tangga.

Untuk itu diperlukan sebuah kesadaran dan kepekaan yang sangat tinggi dari penerima manfaat jasa lingkungan, sehingga bersedia membayar kepada penyedia jasa. Pada tahapan berikutnya, jika pemanfaat jasa lingkungan bersedia membayar, akan muncul persoalan baru, kepada siapa pembayaran tersebut diberikan? Akan muncul masalah baru, jika pembayaran tersebut bukan pada pihak yang tepat atau tidak berkeadilan, tentunya dibutuhkan sebuah parameter yang jelas.

Skema PES di Aceh

Skema apa yang paling tepat untuk diimplementasikan di Aceh? Secara teoritis PES yang menganut pada skema Voluntary akan sangat sulit di wujudkan, tumbuhnya kesadaran pengguna jasa lingkungan atau pembeli sangat sulit diharapkan, bahkan cenderung menghindar karena memanfaatkan jasa lingkungan adalah sesuatu hal yang mengalir secara alamiah, dan dapat digunakan kapan saja. Sehingga pendekatan berbasis Voluntary tidak bisa diimplementasikan. Hal tersebut bisa dipahami, karena masih rendahnya standart kehidupan atau kemampuan secara ekonomi, walaupun PES voluntary bisa diimplementasikan kepada kelompok atau bisnis yang bersifat komersial.

Untuk itu keterlibatan intervensi Pemerintah sangat mutlak diperlukan, tentunya banyak koreksi yang harus dilakukan Pemerintah dalam hal transparansi dan pengelolaan yang berpihak pada keadilan, dan menempatkan landasan konstitusi rakyat atas jasa lingkungan sebagai barang publik.

Banyak pendekatan dan skema bisa dilakukan dalam mengelola PES, pendekatan pasar bisa menjadi opsi kedua, dengan pertimbangan bahwa sangat sulit dan mahal membentuk sebuah pasar jasa lingkungan.

Kesimpulan dari skema PES adalah untuk mendorong kesejahteraan masyarakat yang berkontribusi dalam melestarikan sumberdaya alam, dengan catatan bahwa daerah hilir atau penerima manfaat atau pihak yang membayar, logikanya harus lebih sejahtera dibanding daerah hulu atau penyedia jasa lingkungan atau pihak yang menerima pembayaran, jika tidak, tak akan terjadi skema Payment for Environmental Services atau PES. []

2 responses to “Pembayaran Jasa Lingkungan

  1. umm… berharap pada kesadaran?
    Negara harus bisa memaksa.

  2. itu kan kajiannya dengan DAS, bagaimana jika kajiannya taman publik/hutan kota yg d kelola oleh pemrintah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s