Suaka Gajah; Salah Satu Opsi Mitigasi Konflik

Suaka Gajah-1HUTAN Aceh merupakan habitat Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), setiap tahunnya tutupan hutan Aceh mengalami pengurangan luas, sejak tahun 2006 – 2010 kurang lebih 40 ribu hektar hutan Aceh terdeforestasi setiap tahunnya, dari luar dan dalam kawasan hutan (Analisis spatial FFI Aceh, 2011). Pengurangan luas tutupan hutan Aceh disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia, antara lain; illegal logging, konsesi perkebunan dan pertambangan, pembukaan jalan didalam kawasan hutan.

Berkurangnya luas tutupan hutan Aceh berdampak terhadap meningkatnya intensitas konflik satwa dan manusia, terutama species Gajah sumatera. Hutan yang menjadi habitat Gajah telah terfragmentasi, demikian juga dengan koridor atau lintasan gajah tidak terkoneksi satu dengan yang lain.  Secara keseluruhan sebaran gajah sumatera di Pulau Sumatera 85% berada di luar kawasan konservasi termasuk di Provinsi Aceh. Kondisi ini menunjukan bahwa konflik gajah liar dengan masyarakat tidak mungkin terhindarkan dan pasti terjadi. Kondisi ini mendukung terhadap tingginya angka frekuensi konflik gajah sumatera dan masyarakat di Provinsi Aceh. Upaya-upaya telah dilaksanakan oleh Balai KSDA Aceh dalam rangka penanggulangan konflik gajah antara lain:

Pertama, Pembentukan Pusat Latihan Gajah (PLG) Aceh di Saree Aceh Besar, saat ini terdapat 19 ekor gajah jinak dengan 26 orang pawang gajah dan 1 orang dokter hewan.

Kedua, Pembentukan CRU (Conservation Response Unit) di 4 lokasi yang sangat rawan konflik yaitu CRU Mane di Pidie, CRU Cot Girek, CRU Sampoiniet, CRU Trumon. Pada CRU ditempatkan gajah jinak dan pawang gajah. CRU ini merespon adanya gangguan gajah liar dengan cara menggiring atau mengahalau gajah liar ke habitat alaminya. CRU Mane Kab. Pidie, 4 ekor gajah jinak dengan 5 orang pawang gajah. CRU Cot Girek Kab. Aceh Utara, 4 ekor gajah jinak dengan 4 orang pawang gajah. CRU Sampoiniet Kab. Aceh Jaya, 5 ekor gajah jinak, 1 ekor anak gajah dengan 5 pawang gajah. CRU Trumon Kab. Aceh Selatan, 4 ekor gajah dengan dengan 4 orang pawang gajah.

Ketiga, Operasi penggiringan gajah liar ke habitat alaminya dari lokasi gangguan. Untuk lokasi-lokasi yang tidak terjangkau oleh CRU penggiringan gajah liar dengan mendatangkan gajah jinak dari PLG Aceh Saree. Demikian juga apabila gangguan gajah tidak bias ditangani oleh CRU-CRU yang sudah dibentuk maka penggiringan gajah di lakukan oleh PLG Aceh.

Keempat, Penyuluhan bidang konservasi. Penyuluhan dilaksanakan di desa-desa dekat wilayah jelajah (home range) gajah. Hal ini meningkat kesadaran dan kepedulian kelestarian satwa gajah.

Kelima, Koordinasi dan kerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat, Instansi terkait dan bermitra dengan LSM yang bergerak di bidang konservasi dalam rangka konservasi gajah.

Keenam, Penegakan hukum. Penegakan hukum dilaksanakan bekerjasama dengan POLRI.

Resolusi Konflik Gajah di Aceh
Tingginya angka konflik manusia dengan satwa liar di Indonesia mendorong pemerintah menerbitkan pedoman tentang pedoman penanggulangan konflik manusia dengan satwa liar. Berdasarkan Permenhut No. 48/Menhut-II/2008 tentang pedoman penanggulangan konflik antara manusia dengan satwa liar dengan prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan adalah: 1) Manusia dan satwa liar sama-sama penting; 2) Site spesifik; 3) Tidak ada solusi tunggal; 4) Skala lansekap (Home range based mitigation); 5) Tanggung jawab multi pihak.

Selain enam point diatas, upaya-upaya yang sudah dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (Aceh) dan mitra kerja –nya, diperlukan opsi-opsi lain untuk resolusi penanganan konflik gajah di Aceh.

A. Kawasan Pengelolaan Gajah di Blang Raweu Kabupaten Pidie Jaya (Managed Elephant Range)
Habitat gajah di Aceh menyebar luas di hampir semua hutan Aceh, namun ada beberapa kawasan hutan yang secara alami memiliki formasi barir alami yang strategis yang dapat diperkuat dan penempatan unit pengelola (CRU) sehingga dapat menampung gajah liar secara aman bahkan dapat menerima gajah pindahan dari daerah konflik tertentu yang kondisi populasinya sudah tidak memungkinkan untuk dipertahan karena jumlah yang terlalu kecil dan/atau ketidak tersediaan habitat yang mencukupi untuk mensuport kelompok tersebut secara jangka panjang. Kawasan ini yang dinamakan sebagai Kawasan Pengelolaan Habitat Gajah (managed elephant range).

Berdasarkan kepada kondisi habitat, barier alami yang tersedia, informasi populasi dan konflik gajah liar, diusulkan kawasan pengelolaan habitat gajah yang telah teridentifikasi:

Kawasan Savana Blang Raweu
Secara spatial luas Blang Raweu diperkirakan ± 20.000 Ha, dengan suhu berkisar 26‐31°C. Adapun topografinya, lembah berbukit‐bukit, ketinggian antara 600–1.500 m dpl, dengan kelerengan antara 10–80 %, jenis tanah umum podsolik merah kuning dan mengandung batuan kapur, luas kawasan perkiraan 12 km2.

Blang Raweue didominasi Savana atau, padang rumput dengan penyebaran pohon‐pohon yang jarang, dan hutan hujan tropis dengan dominansi asosiasi Dipterocarpaceae, Agathis dan asosiasi Pinus.

Savana adalah habitat yang baik bagi satwaliar, terutama bagi herbivora besar, burung, reptil dan serangga juga karnivora besar. Satwaliar selalu mendatangi savana yang baik, guna merumput dan mengasuh anak‐anak seperti gajah (Elephas maximus sumatranus, harimau (Phantera tigris sumatrensis), rusa (Cervus unicolor), babi hutan (Sus scrofa). Dijumpai rangkong (Buceros sp) dan ayam hutan (Gallus gallus) pada padang savana, juga biawak besar (Varanus sp), serta beberapa jenis kupu‐kupu. Di zona ekoton terdapat beruk (Macaca nemesrina).

Selain pemandangan alam blang raweu yang di dominasi dengan Padang alang‐alang dan dikelilingi oleh hutan primer yang menakjubkan. Hamparan Blang Raweu juga di belah oleh sebuah sungai “Krueng Meureudu”.

Pemilihan Kawasan Blang Raweu sebagai kawasan pengelolaan gajah memenuhi kriteria dari sisi barrier alam dan ketersediaan pakan dikawasan tersebut. Dari sisi monitoring, dengan bentang alam/ barrier alam yang terdapat dikawasan tersebut hanya diperlukan 2 post monitoring di bagian utara dan selatan.

B. Perbaikan Koridor Gajah
Koridor atau lintasan gajah pada bentang Alam Aceh mempunyai koneksitas antar home range gajah. Koridor atau lintasan gajah ini merupakan hasil pemodelan yang dibangun FFI Aceh dengan kriteria berdasarkan hasil temuan atau survey, record data intensitas konflik, serta pertimbangan slope atau tingkat derajat lereng yang bisa dilalui oleh gajah.

Berdasarkan analisis spatial FFI Aceh, hasil pemodelan koridor atau lintasan gajah jika di overlay dengan tutupan hutan terkahir (Analisis spatial tahun 2007), sebagian besar koridor tersebut telah mengalami fragmentasi.

Oleh karena itu diperlukan riset update terkait kondisi existing koridor gajah di provinsi Aceh sebagai dasar kajian untuk perbaikan koridor gajah, selain itu diperlukan rehabilitasi kembali lintasan koridor yang telah terfragmentasi.

Perbaikan koridor gajah juga diperlukan komitmen dari pemerintah daerah, terutama dalam rencana penataan ruang Aceh yang berimplikasi memicu konflik satwa (baca: Ada Konflik Ruang dalam Konflik Satwa), terutama lintasan koridor yang telah di alih fungsi menjadi areal peruntukkan lain (APL) serta wilayah konsesi perkebunan dan tambang. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s