Pocut Meurah Intan: Riwayatmu Kini

Oleh; Dewa Gumay

DIANTARA ratusan makam Gudang Banyu Blora, Jawa Tengah. Ada sebuah makam pahlawan wanita Aceh yang amat gigih mempertahankan harkat dan martabat bangsa. Makamnya berimpit dengan ratusan makam lainnya, makam Pocut Meurah Intan.

Pocut Meurah Intan ditangkap dalam kondisi terluka saat bertempur melawan Belanda di Desa Biheue, Pidie, pada 1902. Karena tidak mau menyerah dan dikhawatirkan terus menggelorakan perang jihad, akhirnya Pocut Meurah Intan dibuang ke Blora pada 1905 dan meninggal pada 19 September 1937.

Nama Pocut memang akrab di telinga masyarakat Blora. Namun, begitu melihat makamnya, siapa pun akan merasa miris: dinding makamnya terkelupas. Sedangkan di sekelilingnya, makam warga biasa dibangun mentereng, lengkap dengan pagar pembatas. Makam Pocut juga nyaris tak pernah dikunjungi orang, tak seperti layaknya makam pahlawan.

Sumber Koran Tempo, 12 November 2006 menyebutkan, Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pernah berencana memindahkan jasad Pocut ke tanah kelahirannya pada 2001. Rencana itu batal terlaksana karena Pocut berwasiat bahwa dirinya lebih senang dimakamkan di Blora. Wasiat itu pernah disampaikan Pocut kepada RM Ngabehi Dono Muhammad, penghulu dan sahabat Pocut.

Di Aceh nama Pocut Meurah Intan resmi dilekatkan sebagai pengganti nama kawasan hutan Seulawah Agam tahun 2001, melalui Peraturan Daerah No. 46 yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi, dan telah diperkuat sebelumnya dengan Keputusan Menhut No. 95/KPts-II/2001. Tiga tahun sebelumnya kawasan hutan ini lebih dulu ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dengan status Taman Hutan Raya melalui Surat Keputusan No.1/Kpts-11/1998.

Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan mempunyai sejarah panjang sebelum ditetapkan menjadi Tahura. Sejak tahun 1930 kawasan Seulawah Agam telah ditetapkan menjadi kawasan hutan. Pada tahun 1990 Pemda Daerah Istimewa Aceh, melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala D.I. Aceh No. 522.51/442/1990 tanggal 4 September 1990 membentuk Tim Taman Hutan Raya Seulawah.

Luas peruntukannya mencapai 25.000 hektar, dari luas tersebut akan dipilih 10.000 hektar yang dianggap layak dan dapat mewakili keanekaragaman potensi flora, fauna maupun potensi fisik lainnya yang ada. Ternyata dari luas yang diperkirakan awal 10.000 ha, hanya 6.300 ha yang ditetapkan sebagai luas areal Tahura, dan nama Tahura Seulawah kemudian di tetapkan menjadi Tahura Pocut Meurah Intan.

Tahura Pocut Meurah Intan

Pocut Meurah Intan terletak di gugusan kawasan hutan Seulawah Agam, berjarak 70 kilometer dari Kota Banda Aceh, di dominasi vegetasi hutan pegunungan dan Pinus Merkusi. Secara geografis Pocut Meurah Intan terletak pada 0525′ Lintang Utara dan 9540′ Bujur Timur, secara administratif berada di Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Keadaan topografi Tahura Pocut Meurah Intan pada umumnya berbukit-bukit. Sebagian kecil dari areal tersebut merupakan dataran dengan status sebagai hutan negara bebas dengan ketinggian 0-40 meter diatas permukaan laut dan berada di kaki Gunung Seulawah Agam.

Menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson, Tahura Pocut Meurah Intan termasuk dalam tipe iklim B dan C. Hasil pencatatan rata-rata curah hujan pertahun sebesar 67-101 hari. Curah hujan berkisar antara 1.750-2.000 mili meter pertahun. Temperatur udara rata-rata minimum 22°C dan maksimum 30°C. Kelembaban rata-rata 92,7 persen pertahun dan tekanan udara rata-rata 1.212,1 MB pertahun atau 1010,1 MB perbulan.

Tahura Pocut Meurah Intan memiliki berbagai jenis flora yang didominasi oleh Pinus (Pinus mercusii) dan Akasia (Acasia auriculiformis) seluas 250 Ha, serta padang alang-alang yang luas 5.000 hektar atau 20 persen. Penyebaran jenis-jenis flora ini hampir merata di semua kawasan, mulai dari hutan pantai, hutan dataran rendah hingga hutan dataran tinggi. Di sekeliling Tahura dijumpai padang alang-alang yang diselingi dengan hutan-hutan muda.

Berbagai jenis fauna terdapat di kawasan Tahura yang antara lain: Rusa (Cervus unicolor), Babi (Sus Scrofa), Landak (Hystrik brachyura), Kancil, Kera ekor panjang, Burung sri gunting, Burung sempala, Ayam hutan, dan Lutung. Di samping itu dijumpai juga jenis mamalia besar di antaranya Gajah (Elephas maximus). Penyebaran jenis fauna hampir merata di seluruh kawasan.

Di samping keadaan alamya sendiri yang potensial sebagai tempat wisata juga terdapat beberapa obyek yang dapat dinikmati, antara lain: air terjun berair panas, sumber air panas, kawah ie juk, kawah belerang, tempat mengasin satwa, kubangan gajah, rumah, kolam, saluran pembagi air, bendungan tua peninggalan Belanda, mata air, lembah Mon Jasa Ma, Makan Tgk. Lamcut, Mesjid Tgk. Keumuruh, tebing batu bersusun, lintasan gajah, lantai gunung berbatu, alur besar berbatu, gunung gajah, batu monyet, tempat bermain siamang di pagi hari.

Pocut Riwayatmu Kini

Diatas bukit Seulawah, papan nama itu tegak berdiri menantang pengguna jalan untuk membacanya “Taman Hutan Raya (Tahura) Pocut Meurah Intan”. Di sekitar papan nama berdiri tegak pohon pinus tua berumur ratusan tahun, pemandangan sama akan kita jumpai sejauh mata memandang, pokok pohon pinus menghampar ribuan hektar.

Bagi pengguna jalan raya dari Medan menuju Banda Aceh, Pocut merupakan penyelamat setelah hampir delapan jam di siram terik matahari pantai timur. Bagi warga Banda Aceh, Pocut merupakan reservoar jaminan masa depan ketersediaan air yang melintasi Krueng Aceh.

Kini, banyak yang telah berubah dari kawasan ini, tiap tahunnya pohon pinus bertumbangan jatuh ke tanah berbanding terbalik dengan pertumbuhannya. Kebakaran hutan, aksi pembalak liar, dan konversi lahan selama proses rekonstruksi di tuding banyak pihak sebagai penyebab hancurnya ekosistem ini.

Kita patut khawatir, pasalnya 27 ribu dari 33 ribu rumah tangga di Banda Aceh mencukupi kebutuhan air minumnya dari air ledeng, sumur, dan mata air. Semua sumber air tersebut berasal dari Krueng Aceh yang berhulu di kawasan Pocut. Belum lagi daerah lainnya, seperti Aceh Besar dan Pidie.

Lahan-lahan pertanian akan mengalami gagal panen akibat kekeringan dan tergenang saat musim hujan tiba, sementara kalender musim tanam akan berubah tidak menentu. Karena, kawasan Pocut tidak mampu lagi berfungsi sebagai penyeimbang iklim.

Persoalan yang melanda kawasan Pocut harus segera dicarikan jalan keluarnya. Pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar kawasan harus diperhatikan, dan hal penting lainnya, penegakan supremasi hukum. Karena, kawasan Pocut telah menyandang embel-embel berbagai status hukum mulai dari Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Provinsi. Tak ada alasan untuk tidak melaksanakan hukum di negeri republik yang panglimanya adalah hukum.

Jika itu tidak dilakukan, tak ada lagi tempat berteduh bagi pengguna jalan dari Medan menuju Banda Aceh, yang ter-panggang terik matahari sejak melintasi pantai timur atau suramnya masa depan pengguna air minum di Banda Aceh, Pidie, dan Aceh Besar. Seperti kisah miris makam pahlawan wanita Aceh Pocut Meurah Intan di Blora, berimpit dan mengelupas. Padahal, statusnya pahlawan nasional. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s