Comandante

Oleh; Dewa Gumay

DUA jam sudah saya menunggu diatas sepeda motor yamaha jupiter, bus damri dari bandara soekarno-hatta telah selesai menurunkan penumpang. Ini bus ketiga, tapi Untung belum juga muncul seperti janjinya melalui sms, akan tiba pukul 17.55 dari Banda Aceh dan sampai di Blok M satu jam kemudian.

Untung adalah mentor saya saat masih aktif menggeluti advokasi lingkungan di Palembang tahun 2000, saya bertemu Untung saat mengikuti pendidikan gerakan lingkungan oleh WALHI Sumatera Selatan, waktu itu posisinya sebagai Kepala Divisi Polusi Industri dan Tambang. Tiga tahun saya ikut Untung dalam aksi-aksi pengerahan massa melawan pabrik Pupuk Sriwijaya (PUSRI) di Kecamatan Sungai Buah Palembang.

Pabrik PUSRI, kerap melakukan pembuangan limbah ke Sungai Musi pada malam hari, setelah itu ikan-ikan mati mengambang di atas sungai, dan Untung selalu ada dilokasi saat kejadian, menurutnya masyarakat korban pencemaran harus dibantu. Kasus pencemaran dilakukan PUSRI diadvokasi Untung dengan intentif, dan saya selalu dilibatkan.

Selain belajar langsung dikomunitas korban, tiap malam minggu merupakan sesi diskusi untuk memperkaya wawasan tentang gerakan lingkungan. Buku pertama diberikan Untung untuk dibaca sebagai bahan diskusi adalah pengorganisasian masyarakat kota Saul Alinski dan filsafat pendidikan Paulo Freire.

Tamat kuliah saya memutuskan pergi ke Jakarta, dan Untung tetap di Palembang. Minggu lalu saya mendapat sms, nomornya tak terdaftar di memori, isinya perintah untuk menjemput di Blok M, diakhir pesan tertulis Comandante.

“Comandante,” saya lafalkan tulisan diakhir sms itu. Comandante adalah panggilan hormat untuk pemimpin tertinggi dalam sebuah kelompok gerakan kiri, dipopulerkan dalam buku-buku catatan perang dan biographi Ernesto Che Guevara di Cuba dan sub-comandante Marcos. Sedangkan untuk orang kedua dibawah comandante dipanggil sub-comandante.

Tak perlu lama mengingat, panggilan untuk comandante pernah saya berikan untuk seorang mentor bernama Untung di Palembang. Untung membawahi sepuluh sub-comandante, termasuk saya. Masing-masing sub-comandante diberi tanggungjawab satu kabupaten, tiap sub-comandante membawahi lima orang komando teritori untuk melakukan pengorganisasian massa.

Untung membenci cara-cara militer represif, tapi menyukai strategi militer dengan pendekatan teritori dan system cell pengkaderan Partai Komunis Indonesia. “Strategi teritorial memudahkan pengorganisasian massa secara struktural,” katanya saat briefing untuk persiapan aksi pembebasan petani yang ditangkap di tahun 2002 lalu.

Bus damri dengan dua lampu depan menyala dikanan dan kiri memasuki kawasan Blok M, setelah bus berhenti sempurna, satu persatu penumpang turun. Tanpa menunggu bus kosong, sosok Untung telah nampak di muara pintu belakang bus, dan kamipun bersalaman.

“Apa khabar comandante?,” tanya saya.

“Sangat baik, apalagi setelah yakin burung besi tadi telah mendarat di bumi,” jawab Untung.

Kami singgah diwarung kopi, Untung bercerita tentang Aceh. Tempat impiannya untuk belajar dan mengaktualisasikan strategi gerakan secara kongkriet, saya mendengarkan. Ceritanya panjang mulai dari kepindahannya ke Aceh, hingga cara-cara gerilya Gerakan Aceh Merdeka.

Saya tertawa geli saat Untung bercerita tentang tentara di Aceh, menurutnya tentara hanya banyak dikota, paling jauh masuk desa. Jika terjadi kontak senjata, dan pihak GAM mundur kehutan, tentara tidak mengejar. Setelah selesai menyeruput kopi, saya menanyakan agenda Untung ke Jakarta.

“Ada agenda apa ke Jakarta?,” tanya saya.

“Ikut kursus menulis,” jawab Untung.

“Comandante kok belajar menulis,” tanya saya lagi.

“Hasan Tiro, pendiri Gerakan Aceh Merdeka bukan hanya pemberontak, tapi penulis buku juga, Irwandi Yusuf Kepala Intelijen GAM seorang doktor, Azhar Abdurrahman panglima GAM wilayah Jaya jebolan UI” jawab Untung panjang.

Saya diam berpikir, Untung masih menjelaskan panjang lebar tentang orang-orang GAM berpendidikan tinggi, lalu mencegat penjelasannya, “pemberontak sekolah juga ya?,” dan comandante Untung melotot. []

7 responses to “Comandante

  1. Kawan Untung, Apa kabarmu?🙂

  2. hahaha …

    Syam, pada beberapa adegan cerita itu, aku menggunakan tokohmu.
    Tapi, maaf tidak menyebutmu, karena pasti kau akan protes.

    Salut atas kunjungan-mu

  3. Haha,

    Sak Karep-mu!
    Sim kuring cicing wae.
    Belande maseh jaoh.

  4. belando sudah dekat bos!

  5. Apa kabar Commandante. Saya ingat ketika duduk sekelas dengan commandante.

  6. ekooo…..:)) pasti ingetnya sama tugas dari Janet kan? yang terkantuk2 itu? :p

    salam, commandante!

  7. apa kabar kalian semua…
    sungguh sangat menyesal & tidak enak terpisah dgn kalian semua..
    luar biasa kawan!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s