Asal Usul Perubahan Iklim

Oleh; Dewa Gumay

SEMUA kejadian di muka bumi mempunyai asal usul, tak terkecuali kejadian berubahnya iklim di muka bumi. Asal-usul atau sebab-akibat perubahan iklim secara sederhana dapat dilakukan dengan merunut tahapan-tahapan hingga terjadinya perubahan tersebut.

Tahapan pertama dimulai dengan meningkatnya jumlah gas rumah kaca di langit kita, gas rumah kaca antara lain berupa uap air, karbondioksida, metana, nitrogen oksida, dan gas lainnya. Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktifitas manusia.

Uap air adalah gas rumah kaca yang timbul secara alami dan bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari efek rumah kaca, yaitu kejadian dimana permukaan bumi menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Jumlah uap air berubah secara regional, dan aktifitas manusia tidak secara langsung mempengaruhi konsentrasi uap air kecuali pada skala lokal.

Tanpa disadari, aktivitas manusia memicu peningkatan jumlah karbondioksida yang dilepas ke udara. Misalnya, ketika manusia membakar bahan bakar fosil, membuang limbah padat, memakai kayu untuk menghangatkan bangunan, menggerakkan kendaraan, dan menghasilkan listrik. Padahal, jumlah pepohonan yang berfungsi menyerap karbondioksida semakin berkurang akibat perambahan hutan untuk diambil kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian.

Walaupun lautan dan proses alam lainnya mampu mengurangi karbondioksida di atmosfer, namun kemampuannya kalah cepat dari aktivitas manusia.

Sekadar contoh, pada 1750 terdapat 281 molekul karbondioksida pada satu juta molekul udara atau sekitar 281 ppm. Jumlahnya kemudian naik menjadi 383 ppm pada Januari 2007, atau meningkat 36 persen.

Gas pemicu efek rumah kaca lain adalah metana. Ia mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan selama produksi dan transportasi batu bara, gas alam, dan minyak bumi.

Metana juga dihasilkan dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat keluarkan oleh hewan-hewan tertentu, seperti sapi. Sejak permulaan revolusi industri pada pertengahan 1700-an, jumlah metana di atmosfer telah meningkat satu setengah kali lipat.

Nitrogen oksida dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Nitrogen oksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar dari karbondioksida. Konsentrasi gas ini telah meningkat 16 persen bila dibandingkan masa sebelum dimulainya industrialisasi.

Gas rumah kaca lainnya dihasilkan dari berbagai proses manufaktur. Campuran ber-flourinasi dihasilan dari peleburan alumunium. Hidrofluorokarbon (HCFC-22) terbentuk selama manufaktur berbagai produk, termasuk busa untuk insulasi, perabotan (furniture), dan tempat duduk di kendaraan.

Lemari pendingin di beberapa negara berkembang masih menggunakan klorofluorokarbon (CFC) sebagai media pendingin, selain mampu menahan panas atmosfer juga mengurangi lapisan ozon (lapisan yang melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet). Selama abad ke-20, gas-gas ini telah terakumulasi di atmosfer, tetapi sejak 1995, untuk mengikuti peraturan yang ditetapkan dalam Protokol Montreal tentang substansi yang Menipiskan Lapisan Ozon, konsentrasi gas-gas ini mulai makin sedikit dilepas ke udara.

Pada tahun 2000 para ilmuwan mengidentifikasi bahan baru yang meningkat secara signifikan di atmosfer. Bahan tersebut adalah trifluorometil sulfur pentafluorida. Gas ini masih tergolong langka karena sumber penghasilnya belum teridentifikasi. Tapi ilmuwan menemukan jumlah gas ini meningkat sangat cepat. Bahayanya, gas ini mampu menangkap panas jauh lebih besar dari gas-gas rumah kaca yang telah dikenal sebelumnya.

Pemanasan Global

Gas rumah kaca yang mengumpul di udara menjadi awal terjadinya perubahan iklim. Secara perlahan, gas ini akan menjadi faktor pemicu, apa yang kita kenal dengan pemanasan global. Peristiwa ini dipengaruhi oleh kenaikan suhu atau temperatur di atmosfer, alut, dan daratan bumi.

Proses pemanasan global dapat diterangkan secara sederhana, yakni panas yang diserap sebagian dan memantulkan kembali sisanya ke bumi. Sebagian dari panas ini mengandung radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana.

Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi, akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Jika konsentrasi gas-gas tersebut terus meningkat di atmosfer, maka akan semakin banyak panas yang terpantul ke bumi.

Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup yang ada di bumi. Tanpa efek rumah kaca, planet ini akan menjadi sangat dingin mencapai minus 18 derajat celcius hingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Tetapi, karen jumlah gas-gas efek rumah kaca telah berlebih di atmosfer, maka terjadilah pemanasan global.

Sejauh ini isu perubahan iklim dan dampaknya mengacu pada laporan para ilmuwan yang tergabung dalam Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel antarpemerintah tentang perubahan iklim.

Panel ini didirikan pada tahun 1988 oleh organisasi PBB, World Meteorological Organization (WMO) dan United Nations Environment Programme (UNEP). Tujuannya untuk mengevaluasi resiko perubahan iklim akibat aktifitas manusia, dengan meneliti semua aspek berdasar literatur teknis dan ilmiah.

Salah satu kesimpulan penting panel tersebut adalah perubahan iklim berubah cepat karena aktivitas manusia, terjadi sejak pertengahan abad ke-20. Laporan IPCC tahun 2001, misalnya menyatakan bahwa temperatur udara bumi telah meningkat 0,6 derajat celsius sejak 1861. Mereka juga memprediksi kenaikan temperatur rata-rata bumi meningkat 1,1- 6,4 derajat celcius hingga 2100.

Sumber Emisi Pemanasan Global

Lembaga-lembaga yang peduli pada isu perubahan iklim menyebut Amerika Serikat, Cina, Indonesia, Brazil, Rusia, dan India merupakan negara penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia. Masing-masing menyumbang 6.005, 5.017, 3.014, 2.316, 1.745, dan 1.577 juta ton karbon dioksida ekuivalen (MtCO2e). Sumber emisi tersebut berasal dari sektor energi, pertanian, kehutanan, dan sampah.

Sektor energi merupakan penghasil gas rumah kaca terbesar 12.628 MtCO2e, diikuti sektor kehutanan 4.479 MtCO2e, sektor pertanian 2.912 MtCO2e, dan dari sampah sebesar 635 MtCO2e. Total gas rumah kaca yang dihasilkan empat sektor tersebut mencapai 20.654 MtCO2e disumbangkan negara tersebut.

Sementara itu, sektor kehutanan menempati peringkat kedua penyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 4.479 MtCO2e. Emisinya dihasilkan dari deforestrasi dan konversi lahan. Penyumbang emisi ini berasal dari negara yang memiliki tutupan hutan cukup luas, yakni Indonesia dan Brazil. Masing-masing 2.563 dan 1.372 MtCO2e.

Emisi sektor pertanian didominasi Cina, sebesar 1.171 MtCO2e diikuti Brazil dan India. Sedangkan emisi gas rumah kaca berasal dari sampah sebagian besar didominasi Amerika Serikat, Cina, dan India.

Pada awal 1896, para ilmuwan membuat sebuah hipotesis atau dugaan sementara bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global. Hipotesis ini dibuktikan tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai.

Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.

Awalnya, para ilmuwan hanya bisa menduga iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan lokasi berbeda. Mereka sampai mengamati iklim bertahun-tahun untuk memperoleh data-data yang jelas.

Sampai pada akhir 1980-an, pengamatan memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini, tetapi data statistik ini masih belum dapat dipercaya. Stasiun cuaca pada awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan sehingga pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan dan jalan.

Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan), serta dari satelit. Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang tertutup lautan.

Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa kecenderungan menghangatnya permukaan bumi benar-benar terjadi. Pada akhir abad 20, selama seratus tahun terakhir kondisi terhangat terjadi setelah tahun 1980. Tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dan kondisi yang paling panas terjadi setelah 1998.

IPCC memprediksi konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100. Namun, mereka memperingatkan iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya.

Karbondioksida akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu menyerapnya kembali. Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad 22.

Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah bumi. Manusia akan menghadapi masalah ini dengan resiko populasi yang sangat besar, dan kejadian ini akan lebih mengerikan. []

4 responses to “Asal Usul Perubahan Iklim

  1. thanks, ya…lumayan buwat referensišŸ˜‰

  2. trimakasih ^-^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s