Hasan Basri, Pedagang Pariaman

Oleh Dewa Gumay

HASAN BASRI duduk di kursi menghadap jalan raya, pandangannya dipisahkan deretan kardus air mineral, rokok, dan barang dagangan lain. Usianya 82 tahun, datang dari Pariaman ke pasar Tanah Abang hanya bermodalkan ijazah sekolah rakyat dan seorang kerabat dari Pariaman.

Selama tinggal di perantauan, Hasan Basri sempat menganggur satu tahun. Ia menumpang ditempat pamannya sebelum mulai berjualan baju dengan mendirikan kios yang terbuat dari kayu di pasar tanah abang, tahun 1973 kiosnya digusur dan diganti dengan uang Rp1,5 juta, sejak itu Hasan Basri pindah ketempat yang didudukinya sekarang ini, hasil pemberian penggusurnya.

Posisi duduknya belum beringsut dari tempat semula, saya mengambil posisi duduk diseberangnya membelakangi jalan raya. Dari dahi keriputnya mulai mengeluarkan keringat.

Tempat berdagangnya berbagi dengan tempat tinggalnya yang terbuat dari atap seng dan dinding kayu, jika siang hari paling enak mengenakan kaos singlet menyeruput segelas kopi, candanya sambil tertawa memperlihatkan gusinya, mempersilahkan saya menyeruput kopi yang telah dihidangkan anak perempuannya.

Sekarang, tanahnya sudah berkurang empat meter dari pangkal jembatan di depannya, “Tanah saya sampai pangkal jembatan itu,” kenangnya, dua kali digusur Hasan Basri tak pernah menerima uang ganti rugi, kecuali selembar kertas dari Ketua rukun tetangga berisi pemberitahuan penggusuran.

“Itukan zaman orde baru!, lagi pulau saya perantau yang penting berdagang aman, itu sudah cukup!,” jelasnya.

Tahun lalu, tanahnya sudah ditawar orang Rp15 juta per meter tapi ditolak, alasannya, seorang pedagang tidak mungkin menjual tempat dagangannya. Ia juga sempat khawatir kalau digusur lagi oleh pemerintah, karena pengalamannya dua kali digusur tak pernah mendapat ganti rugi.

Usia 82 tahun dan kematian istrinya, lima tahun silam, tidak membuat Hasan Basri berhenti berdagang. Dibantu anak perempuan ketiganya, mereka membuka warung nasi padang, bersebelahan dengan tempat dagangan lainnya masih dalam satu rumah, “Makan pak!” pinta pengendara sepeda motor sembari melepas helmnya. Hasan Basri tak selincah dulu lagi, kelincahannya berkurang karena umurnya bertambah.

Urusan melayani tamu yang ingin makan sudah menjadi urusan anak perempuannya. “Dewi … ada orang mau makan nih!,” suara sayupnya kearah belakang warung tempat anaknya mencuci piring.

Penghasilan Hasan Basri dari berdagang tidak tentu. Paling besar sekitar Rp400 ribu sehari kalau lagi sepi Rp100 ribu. Ketika saya menanyakan seandainya terjadi penggusuran lagi?, Hasan Basri hanya menjawab dengan mulut terkatup, menambah keriput diseputar bibirnya. Sejurus kemudian bibir terkatupnya membuka. “Pulang kerumah anak saya,” jawabnya dengan bibir tetap keriput.

Menantu Hasan Basri anggota Dewan Perwakilan Rakyat namanya Abubakar dari Partai Keadilan Sejahtera, tetapi prinsip hidupnya sangat kuat, ketika saya tanya mengapa tidak tinggal dengan anaknya?, spontan dia menjawab, “Saya pedagang, selama masih bisa berdagang, saya tetap akan berdagang,” tukasnya. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s