Perusakan Lingkungan dan Krisis Sumber Daya Alam

Banjir Tamiang

Pra Perang Dunia I

Sejak awal perkembangan sistem ekonomi yang beorientasi modal, kawasan lingkungan alam yang kemudian disebut Sumber Daya Alam (SDA) sudah menjadi salah satu faktor penting disamping modal dan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebagai suatu ideologi yang bertujuan melakukan penumpukan modal (Capital Accumulation) melalui proses penanaman modal (Capital Investment). Dalam prakteknya tak lain adalah mendorong dan mengharuskan adanya ekspansi keluar dalam bentuk penguasaan pasar, sumber pasokan bahan baku dan tenaga kerja semurah mungkin. Pada zaman kolonialisme akumulasi modal yang tersentralisasi di Eropa (Inggris) di distribusikan kebeberapa penjuru dunia, yang pada gilirannya ia menghadirkan segenap kemiskinan di wilayah jajahannya. Keyakinan akan akibat dari proses dialektika materialis-lah, ideologi akumulasi modal muncul. Pandangan ini kemudian dipertegas oleh Weber dengan deskripsinya tentang “adanya sebuah gerakan individualisme sebagai penentangan atas eksploitasi kejam yang dilakukan oleh feodalisme”. Feodalisme di Yunani dan Romawi muncul dari kelas militer, sedangkan di Eropa Tengah muncul dari kelas Tuan Tanah. Kondisi inilah yang melahirkan kelas-kelas penguasa atau pemegang hak milik atas aset produksi, kelas sosial ini kemudian hari dilawan dengan gerakan individualisme yang merupakan cikal bakal sistem akumulasi modal.

Periode di atas ditandai dengan pemenuhan kebutuhan pokok dengan kehadiran industri sandang di Inggris (abad XVI sampai XVIII). Walaupun industri sandang tersebut masih menggunakan mesin pemintal yang sangat sederhana, namun kepesatannya pada gilirannya mampu meningkatkan apa yang disebut sebagai ‘surplus sosial’. Pada akhirnya surplus sosial itu telah berubah menjadi perluasan kapasitas produksi, perluasan demi perluasan dengan justifikasi produktifitas yang dilakukan selanjutnya menghadirkan fenomena dramatis dengan munculnya kolonisasi kedaerah-daerah lain yang tak memiliki keseimbangan produksi. Menurut Dillard, pase ini didukung dengan tiga faktor penting ; Pertama, dukungan agama dengan menanamkan sikap dan karakter kerja keras dan anjuran untuk hidup hemat. Kedua, hadirnya mitos logam mulia terhadap distribusi pendapatan atas upah, laba, dan sewa. Ketiga, keikutsertaan negara dalam membantu membentuk modal untuk berusaha.

Pergeseran prilaku yang semula hanya sekedar perdagangan publik, kearah dan wilayah jangkauan yang lebih luas lagi, yaitu industri. Transformasi dari dominasi modal perdagangan ke dominasi modal industri merupakan ciri Revolusi Industri di Inggris . Perubahan dalam cara menentukan pilihan teknologi dan cara ber-organisasi berhasil memindahkan industri dari pedesaan ke sentra-sentra perdagangan lama diperkotaan. Kesuksesan secara ekonomis tersebut kemudian disusul dengan kesuksesan di bidang politik (hubungan kapital dengan negara), kondisi ini akhirnya menentukan gaya eksplorasi, eksploitasi dan perluasan daerah-daerah kekuasaan sebagai tempat untuk mendistribusikan hasil limpahan produksi. Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa disana mereka juga melakukan eksploitasi kekayaan setempat.

Pada periode kolonisasi, banyak negara Utara melakukan invasi kenegara-negara Selatan atau negara dunia Ketiga (Asia, Afrika, dan Amerika Latin). Invasi ini pada hakekatnya ialah mencari sumber daya alam baru atau bahan baku untuk mengerakkan mesin-mesin industri di negara Utara. Dari sinilah kemudian fenomena imperialisme dapat dilacak, negara-negara Utara yang telah memulai proses industrialisasi yang dipacu oleh revolusi industri itu kemudian berlomba-lomba untuk mengirim ekspedisi mencari daerah atau wilayah baru. Konflik untuk memperebutkan sumber-sumber bahan mentah atau bahan baku dan juga konflik untuk memperebutkan pasar untuk melemparkan hasil produksi dengan demikian menjadi fenomena yang tidak terhindarkan. Inilah sebenarnya hakekat imperialisme itu, penaklukan menjadi kebutuhan dan penjajahan menjadi konsekuensi logis. Daerah jajahan/koloni akhirnya kehilangan kedaulatan dan martabatnya, sementara perekonomian mereka dibentuk sedemikian rupa untuk melayani kepentingan tuan-tuan kolonial. Ketimpangan ekonomi yang ditimbulkan akibat penjajahan itu pada akhirnya menjadi pangkal dari krisis lingkungan hidup, yang ditandai dengan eksploitasi besar-besaran sumber daya alam di negara dunia ketiga.

Pasca Perang Dunia II

Kolonisasi langsung ini pada perkembangannya disadari oleh negara kolonial terlalu transparan, terlihat tidak adil dan diyakini tidak dapat berlangsung terus. Maka pada tahun 1944, sebanyak 44 negara berkumpul di Bretton Woods (kota kecil di negara bagian New Hampshire, AS), untuk membicarakan Tata Ekonomi Dunia Baru pasca Perang Dunia II. Tujuan utama dari pertemuan ini ialah “menciptakan perdamaian, karena itu harus dimulai dengan menciptakan kemakmuran ekonomi bagi semua negara di dunia ini”, akhirnya lahirlah dua lembaga internasional yang dikenal dengan nama Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (World Bank dan IMF, yang mulai beroperasi tahun 1947). Lahirnya Bank Dunia dan IMF merupakan babak baru dalam sejarah umat manusia, dimana pembangunan negara-negara juga menjadi urusan negara-negara lain di dunia ini, tampaknya ini merupakan awal mula globalisasi yang semakin pesat didorong dengan perkembangan teknologi komunikasi.

Pada proses globalisasi pembangunan yang ditandai dengan munculnya Bank Dunia dan IMF, masalah dunia yang dulunya hanya kemiskinan dan perang bertambah satu yaitu ‘perusakan lingkungan’. Masalah perusakan lingkungan ini tidak terjadi secara proses alamiah yang tidak disengaja, namun lebih merupakan masalah kerusakan lingkungan yang dilakukan secara aktif oleh manusia yang serakah mencari keuntungan pribadi. Tidak dapat disangkal bahwa proses globalisasi pembangunan dengan titik sentral pengembangan teknologi industri yang pesat dibarengi pula dengan polusi udara, polusi laut, kerusakan hutan, dampak rumah kaca, dampak limbah nuklir, chlorine, dsb.

Perusakan lingkungan tersebut merupakan impak dari hubungan antara negara penerima hutang (negara dunia ketiga) dengan negara pemberi hutang, hubungan yang semula diharapkan menghasilkan kemakmuran bagi semua negara, bergeser menjadi kemakmuran bagi negara pemberi hutang atau negara pertama di satu sisi dan kemiskinan yang sangat menonjol di belahan dunia lainnya. Negara dunia ketiga mengalami cekikan hutang, penurunan nilai tukar bagi barang-barang yang dihasilkan, ketergantungan yang sangat tinggi pada negara donor, yang pada akhirnya memaksa negara dunia ketiga untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya semaksimal mungkin. Dalam peristilahan ekonomi hal itu berarti eksploitasi produksi dan ekspor bahan-bahan mentah maupun komoditas yang lebih cepat. Pendapatan ekspor (plus pertukaran luar negeri yang lain yang terjadi dalam bentuk pinjaman, bantuan dan investasi) dipakai untuk pembayaran impor barang-barang konsumen dari negara-negara asing (terutama negara-negara donor, dan menyangkut barang-barang mewah bagi kelompok elit lokal) serta berbagai masukan mesin-mesin berteknologi usang atau sampah maupun teknisi-teknisi asing yang tidak terpakai di negaranya.

Proses ekonomi ini bermuara pada krisis besar di bidang lingkungan hidup, eksploitasi bahan-bahan mentah dan tanaman perdagangan ini mengakibatkan penipisan dan habisnya sumber daya alam yang merupakan faktor penting bagi produksi yang berkelanjutan–telah dikuras sedemikian cepat dan membabi buta dalam periode pasca perang.

Diseluruh dunia sekarang argumentasi lingkungan digunakan sebagai salah satu unsur baru dan kuat dalam perebutan kekuasaan atas sumber daya lokal. Persekutuan-persekutuan politik yang aneh sengaja dikaburkan yang antara lain, ditemukan adanya lembaga donor asing yang bekerjasama dengan para politisi etnis setempat dengan agenda-agenda lingkungan mereka. Makin lemah pihak penerima bantuan, makin kuat para donotur internasional itu bisa memaksakan persyaratan-persyaratan lingkungan hidup (acoconditionalities) mereka. Sebaliknya, makin kuat perekonomian negara penerima, dan justru ketika makin mendesaknya persyaratan-persyaratan lingkungan diterapkan pada negara tersebut sesuai dengan tuntutan pelestarian lingkungan, maka makin lemah pula dampak keprihatinan lingkungan global tersebut terlaksana di negeri tadi.

Uniknya krisis lingkungan hidup ini, dijawab dengan resep “obat penenang” (‘palliatives’), misalnya; pembabatan hutan besar-besaran di injeksi dengan kewajiban penanaman kembali pohon bagi pengusaha hutan, Impor teknologi sampah atau teknologi usang asal dibarengi dengan kewajiban pembuatan AMDAL (sebagai syarat formal) sebagai penenang masyarakat sekitar lokasi, penyelesaian konflik lingkungan lewat Win-win Solution. Dan uniknya lagi resep-resep obat penenang tersebut sengaja diciptakan oleh negara-negara donatur, demi melanggengkan sistem ekonomi global yang diterapakan di negara dunia ketiga. Jadi jargon “pembangunan berkelanjutan” hakikatnya ialah berkelanjutannya sistem ekonomi yang selalu berupaya mengakumulasikan modal. Atau dapat di analogikan dengan “Pangeran rupawan (Bank Dunia & IMF) yang menyembunyikan pedang dibelakang punggungnya, siap memberikan kecupan hangat pada gadis cantik jelita yang baru bangun dari tidurnya (negara dunia ketiga)”.

Menurut Martin Khor Kok Peng (Imperialisme Ekonomi Baru. Putaran Uruguay dan Kedaulatan Dunia Ketiga, 1993) kesalahan ini terjadi dikarenakan “Kekuatan-kekuatan telah berusaha dan berhasil ‘mengelola’ transisi dari dunia kolonial ke dunia pasca-kolonial, dengan cara-cara yang sesungguhnya semakin mengetatkan kontrol mereka terhadap pemanfaatan berbagai sumber daya yang ada di dunia ini, sementara mereka juga menyebarkan model pembangunan, budaya, dan gaya hidup Barat ke negara-negara yang baru merdeka ini”. Caranya ialah melalui tekanan hutang, perundingan-perundingan dalam kerangka GATT (General Agreement on Trade and Tariff ) dan Putaran Uruguay, pemaksaan model pembangunan yang menguntungkan negara-negara yang lebih kuat lewat apa yang disebut Program Penyesuaian Struktural atau SAP (Structural Adjusment Program). *

2 responses to “Perusakan Lingkungan dan Krisis Sumber Daya Alam

  1. bolg a ok..

  2. Shendy Revilla21

    haaaaaaaaaaaaaaaaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s