Potret Investasi Aceh

TULISAN ini hanyalah awal untuk menginspirasi lahirnya tulisan berikutnya yang lebih detail tentang masuknya investasi dan dampak yang ditimbulkan, dengan melakukan comparasi dampak pada wilayah-wilayah yang telah dibangun peradaban modern, tetapi menghancurkan peradaban lokal yang telah tumbuh-kembang ratusan tahun silam.

Kran Investasi telah dibuka selebar-lebarnya oleh Gubernur Pemerintahan Aceh, Drh. Irwandi Yusuf, sekaligus menandai dimulainya perdagangan babak baru pasca konflik dan tsunami. Berbagai merk dagang, perusahaan cartel, dan konglomerat mulai melakukan transaksi dan penjajakan komitmen. Aceh baru dan bermartabat dimaknai dengan mendatangkan investor, aliran dana investasi besar ditengarai banyak menggunakan aliran dana utang melalui donor-donor lembaga keuangan dunia.

Tulisan ini bukanlah ingin membongkar relasi antar komprador bisnis, sekilas, tulisan ini tak lebih dari directory investasi yang akan menggarap Aceh dan juga tidak detail melucuti sejauh mana dampak investasi terhadap pengelolaan sumber daya alam. Walaupun demikian, setidaknya terdapat peta awal, apa yang akan terjadi di Aceh dalam konteks pengelolaan sumber daya alam.

 Setidaknya, saya ingin katakan bahwa susah mencari Merdeka 100% di Republik ini, bukan fenomena, mungkin pengetahuan terhadap dampak yang ditimbulkan kurang paham, atau sebuah paradigma lama yang tidak ditinggalkan. Menyitir ucapan seorang teman, “Penjajah diusir, wataknya dipakai.”Siapa berbisnis di Aceh ?, jika dilakukan penelusuran terhadap proyek-proyek investasi baik dalam tahap komitmen maupun realisasi, maka dapat dikelompokkan sebagai berikut;

Metro Kijang Groups – Kuala Lumpur Malaysia

(Masih dalam komitmen) lokasi Aceh Utara untuk investasi Perkebunan Kelapa sawit, Perhotelan, Pengalengan Ikan, dan Bandara Malikussaleh.

APDA – Badan Usaha Pemerintah Provinsi Aceh

APDA (Aceh Plantation Development Authority) adalah badan usaha milik Pemerintah provinsi Aceh yang akan mengelola perkebunan sawit seluas 145.000 ha berlokasi di 13 Kabupaten dan 13 pabrik CPO (Crude Palm Oil) dengan total investasi $ 568 juta atau Rp 5,1 Triliun. Dengan rincian $ 116 juta atau Rp 1 triliun untuk pembukaan perkebunan 45.000 ha di Kabupaten Aceh Besar, Pidie, dan Aceh Jaya dan $ 47 juta atau Rp 423 milliar untuk pembangunan 3 pabrik CPO-nya. Sedangkan sisanya $ 294 juta atau Rp 2,6 trilliun akan digunakan untuk membangun 100.000 ha perkebunan kelapa sawit di 10 Kabupaten, yaitu Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Singkil, Aceh Selatan, dan Aceh Tenggara, dan $ 111 juta atau Rp 999 triliun akan dibangun 10 pabrik CPO-nya.

APDA akan menggunakan jasa konsultan Technical Committee YaPEIM (TCY), sedangkan struktur dana akan menggunakan pinjaman dari Islamic Development Bank (IDB).

AFD Perancis

Masuk melalui lembaga keuangan AFD (Agence Francaise de Development), untuk infrastruktur perhubungan, dengan nilai total investasi Rp 2,8 Trilliun, untuk membangun Lima pelabuhan dan tiga bandara sebesar Rp 900 milliar, dan Jasa Kereta Api sebesar Rp 1,9 trilliun.

Koperasi Pabrik Garmen Aceh (KPGA)

lokasi di Cot Gapu Kabupaten Bireuen, KPGA akan membuka pabrik pakaian/sandang, pemilik KPGA adalah Till Freyer warga negara Jerman yang menetap di Indonesia sejak tahun 1992, Till Freyer adalah pemilik Yayasan Garmen Training Center di Sentul – Bogor.

Dublin Port – Irlandia

Perusahaan Pelabuhan Milik Pemerintah Irlandia yang akan mengembangkan Kawasan pelabuhan Sabang, dengan nilai investasi Rp 40 triliun selama 15 tahun.

Lafarge – PT Semen Andalas Indonesia

Lafarge merupakan cartel bisnis cement dunia, mempunyai pabrik di 76 negara. Lafarge Cement Indonesia mengambil alih kepemilikan PT SAI dengan kucuran dana $ 150 juta atau Rp 1,4 triliun untuk pabrik baru, dan $ 17 juta untuk pembuatan terminal pengepakan, pabrik yang berlokasi di Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar ini mampu memproduksi 1,6 juta ton semen per tahun.

Distributor penyaluran Cement PT SAI: PT Delta Daroy, PT Wadah Suci, PT Fajar Syahdina, PT Lhoknga Sarana Andalas, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, PT Andesmont Sakti, PT Pinto Aceh Perkasa, PT Dunia Barusa, PT Beuna Setia Kawan Anda.

GAIA Jerman

Membangun Industri Baterai Teknologi tinggi untuk kebutuhan kendaraan bermotor, lokasi pabrik di Aceh Utara.

Pulo Gadeng Groups

Pulo Gadeng groups adalah milik Muzakir Manaf (Eks. Panglima TNA-GAM), mempunyai Pabrik Rangka Baja Ringan di Kawasan Industri Krueng Raya Aceh Besar dan Meulaboh dengan merk dagang “Cap Ubong Beusoe”. Selain itu mempunyai bisnis Pakan Ternak dan Plastik di Kawasan Industri Krueng Raya Aceh Besar, dan Perkebunan Hortikultura di Takengon – Aceh Tengah. Muzakir Manaf bertindak langsung sebagai Direktur Utama, H Tarmizi Yusdja sebagai Direktur, dan Zulkifli Bin Ubit sebagai Komisaris.

(Bersambung)

7 responses to “Potret Investasi Aceh

  1. Tinggal kita lihat, siapa yang akan menjadi kaya dan siapa yang akan tetap miskin.

  2. dan … kita lihat siapa yang Merdeka 100%.
    hehehe ….

  3. Jika kita memandang dari berbagai perspektif, mungkin kita menilai…o…perspektif pemerintah, investasi diperlukan bagi percepatan pembangunan di Aceh dan income bagi devisa daerah. perspektif pengusaha, membantu pemerintah dalam pembangunan dan yang terpenting adalah mereguk keuntungan. dan persfektif masyarakat, ya…termasuk saya didalamnya, tetap dibutuhkan assessment oleh pemerintah yang juga melibatkan stakeholders yang konsen di bidang investasi (baik yang pro maupun yang kontra). Menurut saya ada beberapa hal yang perlu diketahui Pemerintah :
    1. dari lahan yang akan diberikan untuk dieksploitasi, ada tidak tanah tersebut tanah ulayat masyarakat adat? Jika ada, tentu saja hak mereka terhadap tanah ulayat-nya harus diprioritaskan.
    2. AMDAL, sejauh mana pengeksploitasian tambang oleh perusahaan2 tersebut tidak merusak lingkungan eksploitasi, dan yang terpenting limbah
    eksploitasi tidak mencemari lingkungan sekitar.
    3. Jika masalah tanah dan AMDAL selesai, dari seluruh total pekerja yang diterima dalam perusahaan tersebut, minimal 50% merupakan masyarakat sekitar eksplorasi, 25% masyarakat Aceh diluar lokasi eksplorasi, dan 25%
    dari luar Aceh.
    4.Harus ada regulasi yang ketat tentang kompensasi atas kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, jika perlu jika ada korban akibat banjir atau tanah longsor yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan akibat eksplorasi, pelaku wajib dikenai tindak pidana.
    5. Terakhir, harus jelas berapa keuntungan yang didapat pemerintahan Aceh atas eksplorasi sumber daya alam di Aceh. paling tidak sesuai dengan apa yang ditulis di dalam UUPA.
    aku berharap 5 point ini benar-benar jadi prioritas, jika ingin investasi yang masuk memihak kepada rakyat dan sifatnya berkelanjutan tanpa merusak lingkungan.

  4. tulisan Ok..boleh sharing akan bahan-bahan tersebut,kalau ada waktu bisa mail saya mas. terima kasih

  5. insya allah, ke adress email yang mana ?.

  6. semua orang mengharapkan berkembangnya aceh sampai dikenal di seluruh dunia…..cobalah” Sultan Iskandar Muda aja boleh”.

  7. Alhamdullillah mudah2an Harkat dan Martabat Bangsa Adjeh bisa terangkat, dan sudah saatnya Sumber daya Alam Di Nangroe Aceh Darussalam di kelola secara Profesional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s