|“Sirine Donat” dan Bisnis Bencana Pasca Tsunami NAD|

Oleh: Hidayat | Anggota MPBI (Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia) menetap di Banda Aceh

ADAKAH masyarakat yang tahu berapa harga “sirine donat” yang ada di depan Kantor Gubernur NAD? Mungkin tidak semua orang mengetahuai berapa harganya. Tampaknya lembaga BMG (Badan Meterologi dan Geofisika) kurang transparan untuk bisnis peralatan bencana karena tidak ada satupun media massa yang mengetahuinya. Dan apa yang diketahui oleh masyarakat pada umumnya yakni tiba-tiba sudah ada sirine terpasang dan yang lain tidak tahu sama sekali.

Setelah menghimpun beberapa sumber informasi dari berbagai sumber, maka diketahui harga sebuah sirine donat tersebut berkisar 10.000 dollar Amerika (setara dengan 100 juta rupiah).

Semahal itukah harga sebuah sirine, mengapa tidak kita beli saja sirine semacam sirine untuk mesjid yang umumnya bermerk “toa” lebih murah tidak sampai 1 juta rupiah satunya. Itu artinya kita dapat memiliki lebih banyak sirine yang dapat dimiliki setiap desa di NAD untuk system peringatan dini.

Tapi untuk apa sirine semahal itu dibeli jika bukan untuk system peringatan dini Tsunami di Banda Aceh dimana system peringatan dini didefinisikan sebagai upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa kemungkinan bencana akan segera terjadi, yang menjangkau masyarakat, segera, tegas tidak membingungkan, dan resmi (draft RUU Penanggulangan Bencana,-26 Des 2006-versi MPBI).

Di Banda Aceh ini ada enam buah sirine uji coba itu tersebar di beberapa wilayah tapi hinga kini belum pernah di uji coba kemampuannya. Apakah bekerja dengan baik jika Tsunami dating lagi ke NAD? Inilah yang jadi pertanyaan tentang efektifitas keberadaan sirine Tsunami sebagai alat bantu system peringatan dini di masyarakat.

Jadi dengan mengetahui satu harga sirine donat Tsunami yang sedemikian mahal. Rasa ingin tahu mendorong kita lagi berapa harga sebuat Dart bouy sebuah alat yang dapat mengirim informasi gelombang Tsunami yang terkait dengan seismograph yang berada didasar laut. Sebuah harga dart bouy berkisar 300.000 dollar Amerika (setara dengan 3 milyar rupiah).

Berapa banyak yang dibutuhkan untuk NAD? Ini baru soal sirine dan dart bouys belum lagi yang lain. Bisa dibayangkan betapa mahalnya harga teknologi untuk mengetahui informasi tentang Tsunami. Tapi NAD butuh itu, agar tidak jadi korban keganasan Tsunami berikutnya. Mudah-mudahan tidak terjadi!

Hasil komunikasi personal (19/2/07) dengan Tsunami working Group Aceh Nias (TWG-AN) yang bekerja untuk membangun system peringatan dini Tsunami di NAD memperkirakan investasi yang dibutuhkan sedikitnya sebesar dua puluh lima (25 juta dollar Amerika) setara dengan 250 milyar rupiah untuk kota Banda Aceh saja.

Jika dibagi 250 milyar dibagi jumlah penduduk banda Aceh per tahun 2005 yang kurang lebih sekitar 177.181 jiwa (Aceh dalam angka, BPS 2005) maka biaya untuk mendapatkan layanan system peringatan dini Tsunami perjiwa adalah 1.4 juta rupiah.

Apa saja yang didapat oleh masyarakat untuk uang sebanyak 1.4 juta rupiah. Bermacam hal dari biaya study, inventory bangunan, design dan renovasi bangunan untuk bangunan evakuasi. Penyuluhan keberbagai lokasi tempat tinggal masyarakat di pesisir pantai secara berkelanjutan.

Puluhan sign board di lokasi strategis yang menjelaskan tempat-tempat evakuasi dan juga pelatihan dan penguatan kelembagaan bencana berbagai serial pelatihan Tsunami drill. Dari menguji perosedur tetap (standard operation procedure), menguji system komunikasi dalam benecana, menguji fungsi-fungsi lainnya, dan mobilisasi skala besar untuk drill Tsunami, dan seluruh dedikasi yang diberikan pada setiap pihak yang terlibat .

Tapi persoalannya, siapa yang tertarik untuk itu? Apakah pemerintah NAD dan BRR Aceh Nias tertarik untuk melindungi warganya denga harga seperti itu.

Setelah Gempa bumi dan Tsunami yang meluluh lantakan Aceh dengan total kerugian sebesar 4.1 triliun rupiah. Sekarang semua orang seakan lupa dan berkeyakinan sekali bahwa gempa dan Tsunami hanya akan dating setiap 50 tahu 100 tahun kemudian. Kepercayaan ini terus di dengung-dengungkan dan menjadi sebuah mitos yang diyakini kebenarannya, padahal kita tahu bahwa peristiwa Tsunami terjadi setiap tahun.

Tsunami di Aceh terjadi pada 2004, di Nias Sumatera Utara terjadi 2005, di Pangandaran Jawa Barat tahun 2006. Jadi mitos bahwa Tsunami akan dating setiap 100 tahun adalah tidak benar, ternyata Tsunami dating setiap tahun sekali.

Belum lagi frekuensi gempa di hampir seluruh Indonesia karena memang kita hidup di dalam kawasan rawan bencana (ring of fire) dimana Indonesia merupakan tempat bertemunya empat lempengan tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, Lempeng samudera hindia dan samudera Pasifik.

Daerah yang relative cukup aman dari ring of fire adalah Kalimantan Tengah dan Selatan, namun kawasan inipun tidak lepas dari bencana kebaharan hutan yang asapnya menyesakan dana dan mendorong warga terkena penyakit saluran pernapasan.

Semua ini menggambarkan bahwa diperlukan kewaspadaan dan kesiap-siagaan terhadap bencana apapun jenis bencananya baik yang hanya satu jenis saja, misalnya Tsunami atau multi bencana.

Perhatikan saja saat ini bukan hanya di NAD dibelahan provinsi di Pulau Sumatera ini amat laku barang dagangan kesiap siagaam bencana, bermuculan dimana-mana isitlah asing dari Emergency Preparadness (E-prep), Disaster Risk Reduction (DRR), Community Base Disaster Reduction Management (CBDRM) dan Sphere.

Jadi kita tidak usah heran dengan berbagai istilah asing yang secara sederhana adalah menyiapkan setiap warga Negara untuk selalu waspada dan siap sedia menghadapi bencana. Mitigasi bencana, istilah yang digunakan oleh BRR Aceh Nias dan Universitas Syahkuala.

Istilah-istilah tersebut memang menjadi bungkus barang dagangan untuk pengelolaan bencana yang cukup laris manis. Masyarakat sebagai calon pengguna barang dagangan atau juga mungkin objek dari kegiatan penanggulangan bencana yang diperlukan adalah tetap kritis terhadap apa yang disajikan baik berupa rencana atau strategi.

Semua itu baru teoritis diatas kertas dan belum terbukti keampuhannya. Apakah semua system yang dibangun dapat dipakai ketika terjadi bencana? Atau hanya sebagai macan kertas saja dan hiasan rak perpustakaan.(***)

One response to “|“Sirine Donat” dan Bisnis Bencana Pasca Tsunami NAD|

  1. Ini tulisan bagus. Padat – Ringkas dan menggelitik. Sayang sekali, karena diletakkan dalam web, yang baca jadi terbatas. Akan lebih bagus jika tulisan seperti ini dibaca oleh pembaca lebih banyak lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s