|Kunjungan Jurnalis|

Oleh: Budi Arianto | Penulis Ujung SumateraHari ini, seorang pegiat media “berkunjung” tak sengaja ke ruang tempat aku sedang belajar bersama tentang CO dengan teman-teman Transparansi International. Tepatnya para pengurus komite masyarakat sadar anggaran, — begitu layaknya yang kami sebut para peserta. Karena mereka adalah orang -orang yang terseleksi dan masih memiliki komidmen yang kuat untuk peduli terhadap berbagai penyelewengan yang terjadi dalam proses pembangunan. Kumpulan orang-orang “langka” inilah yang sedang berolah pikir, bertukar makna tetang sebuah pengorganisasian rakyat. Dan itulah yang disaksikan seorang jurnalis di ruangan ini.Seperti tak percaya pada pandangannya, sang jurnalis ini, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan belajar. Ruangan yang telah dipenuhi oleh berbagai kreatifitas dalam bentuk grafity, symbol, gambar, tentang berbagai tema. Tak hanya di dinding-dinding yang bertaburan ide, gagasan yang tertuang lewat gambar. Bahkan di plafon ruangan pun bergelantungan kliping koran dan majalah yang telah membentuk alur cerita tentang proses pengorganisasian. Baik mulai dari identivikasi masalah, klasifikasi hingga bagaimana gambaran upaya pemecahannya serta apa yang dikerjakan organizer, –seperti yang mereka mimpikan mencapai kondisi ideal perubahan. Tak hanya itu, di sudut-sudut meja juga terpampang sekolah, jembatan kecil hingga jembatan besar yang dirangkai dari sedotan plastik, yang berdesak-desakan dengan boneka-boneka kesayanganku.Tak kusangka, sang jurnalis ini, kemudian justru membuang waktunya untuk “menonton” seharian pelatihan ini. Sesekali ia ikut mengayunkan kakinya saat peserta sedang bernyanyi tentang “perahu Tenggelam” sebagai media mereka untuk membentuk kelompok. Aku menyebutnya peristiwa Titanic. Ini Tetanic imajinatif, kenapa? Soalnya mana ada titanic yang didayung hahahha. Mau tahu bagaimana cara memainkannya, sederhana kok. Pertama mintalah seluruh peserta membentuk kapal (jangan lupa awali dulu dengan lagu, aku lupa judulnya, lagu yang mengiringi film titanic itu lho). Setelah itu matikan lagu. Dan tawarkan ke mereka lagu tentang perahu, ditambah gerakannya mulai dari mendayung, kena ombak, hingga perahu bergoyang. Nah pada akhir lagu tinggal menyebut perahu tenggelam, sekoci hanya muat untuk, misal; 5 orang, ulangi beberapa kali sampai kelompok terbentuk sesuai dengan jumlah peserta.Pada saat istirahat, lelaki muda yang sebagian kepalanya tidak ditumbuhi rambut ini, mulai beraksi. Ia mengamati seluruh gambar-gambar dan menanyakan kepadaku bagaimana mereka menghasilkan itu dan makna dibalik gambar gambar itu. Ia terbengong dan berkomentar, “bagus sekali, mestinya training jurnalistik yang baru kami lakukan dibuat seperti ini, kelihatan lebih asik dan tidak membosankan, ” katanya memuji. “Mudah-mudahan nanti kalau kami buat training akan kuminta Anda membantu kami,” tambahnya. Tentu aku hanya senyum sebagaimana biasanya. Setelah istirahat saat sessi siang ia pun terus mengikutinya, tentu saja ini menambah semangatku untuk terus berproses lebih baik lagi.

Komentar ditutup.