|Bali: Inspirasi Titik Nol|

Oleh: Budi Arianto | Penulis Ujung SumateraMalam ini, bulan tak lagi utuh, menandakan ramadhan telah melewati setengah jalan. Sunyi dikampungku, tak membuat sepi suasana hati. Ada gelisah menyembul diam-diam. Aku mengenang Bali, menatap bulan dan bau dupa. Mengalirkan energi bathin, meraba imajinasi. Sebentar aku terkapar, memandang bulan menerawang kenangan. Di Bali aku mengosongkan diri, memotret diri, meraih cinta. Kembali ke titik nol: Siapa sesungguhnya dan sebenarnya aku? Dari titik nol, aku mengacak-acak makna inspirasi dan motivasi yang menggebu. Inspirasi mengubah pikiran, memendam keangkuhan. Begitulah dalam mengelola pertemuan. Diawali menjadikan semua “tiada”, –membebaskan setiap orang dari kungkungan jabatan,pangkat dan kehormatan. Setiap orang beranjak dari titik yang sama Nol. Start yang sama bisa bernilai beda: tergantung olah pikir, kemauan dan kemampuan dalam memperlakukannya sehingga menjadi “ada”. Menjadi “ada” itulah motivasi, semangat dan upaya mengubah tindakan. Ia tak akan tumbuh dan berkembang dari dorongan luar. Tapi ia tumbuh dari diri sendiri,– dunia dalam (inner life) manusia. Karena  itu, sulit memotivasi orang karena ia hanya lahir dari keinginannya sendiri untuk berubah. Itulah yang diperankan Dani dan Budsi, ia telah “mengilhami”, memberi inspirasi –membuat kita menjadi nol, tapi menerangi jalan seperti bulan dan kita meraih motivasi, menata road map sendiri untuk melangkah, mengais mimpi, meraih cita, mencapai tujuan. Aku mulai meraba bahwa motivasi berarti memberi dorongan dan inspirasi,–mengobarkan perasaan dan tindakan. Ya, motivasi seperti api, jika tidak terus diberi bahan bakar, nyalanya akan redup dan padam. Dan vibrant adalah bahan bakar yang ajaib. Di dalamnya terkandung nilai-nilai spiritual atau mental, yang mengusik bathin, memberi keyakinan, pandangan dan diwujudkan dalam perilaku-perilaku, tidakan-tindakan, dan praktek-praktek, sehingga kehidupan menuju perubahan lebih baik serta bertanggung jawab. Dan hidup menjadi lebih berwarna selayak pelangi yang indah,–perpaduan mentari dan rintik hujan. Bulan terus merangkak, perlahan ia menuju “tiada”, dan aku masih menunggu esok ia akan hadir menjadi “ada”, begitulah kehidupan,  seperti roda miring terseok-seok, tapi dengan keyakinan ia akan sampai tujuan. Dari Bali inspirasi terus mengalir seperti sungai menuju muara; seperti kayu kepada api dalam puisi Sapardi Djoko Damono: aku ingin mencintaimu dengan sederhana.   Akhirnya mari kita nyanyikan “aku ingin vibrant karena …..” (meditasi, 00.00, 10.10.06)

Komentar ditutup.