|IMMEMORIAL MERLYN|

Oleh: Budi Arianto | Penulis di Ujung Sumatera“Nias itu indah, bila kita rela ia indah“. Inilah sederetan kata yang dicoret oleh salah seorang peserta. Training of trainer the art facilitation di Nias. Mungkin sebagian orang tak menganggap ini deretan kata yang mengandung makna. Biasa saja. Tapi deretan kata ini justru menggelitik aku untuk mereka-reka makna dibaliknya. Aku tak pula mencoba menanyakan kepada penulis yang anonim itu. Aku biarkan dan kusimpan dalam deretan file di hati dan otakku. Tiba-tiba saja deretan kata ini yang pertama mencuat saat aku memulai refleksi perjalanan ke pulau Ono Niha, begitu sebutan khusus pulau milik para peloncat batu itu.  Pulau yang menyimpan para gadis yang cantik laksana “buah dalam daun”. Tak terlalu sulit mencapai pulau ini. Banyak pilihan untuk mencapainya. Kita bisa memilih pesawat Merpati, SMAQ atau Susi air. Cukup menyisihkan waktu satu jam perjalanan udara dari kota Medan. Atau bisa pula memilih menggunakan kapal air, ini agak sedikit panjang sekitar 10 jam jalur laut, tapi harus ditempuh melalui kota Sibolga. Bila ingin mempercepat dengan jalur laut bisa juga. Gunakan fery cepat sisihkan saja waktu 3 jam perjalanan menempuh ombak yang bergulung-gulung dan dijadikan sorganya kaum peselancar. Menginjakkan kaki di pulau ini, tentu kita sepakat ia menyimpan keindahan yang luar biasa. Tapi sayang banyak tangan jahil yang tak rela membiarkan keindahannya secara alami, dari udara terlihat jelas banyaknya hutan yang bopeng-bopeng. Nah deretan kata di atas adalah gambaran protes, kecewa, dan ajakan untuk mengingatkan indahnya pulau Nias. Seperti juga kita manusia Ia perlu dibelai, disentuh dengan kelembutan, penuh cinta menjaganya. Ya inilah pulau yang akan selalu mengingatkanku pada seorang gadis kelahiran 1984, tepatnya di daerah Alasa, yang berjarak 3 jam perjalanan dari Gunung Sitoli untuk mencapainya. Merlyn begitu teman-temannya, juga aku memanggilnya. Anak keenam dari enam bersaudara ini tak lebih dari 9 jam aku kenal, aku pahami dan belum pula terlalu jauh mengenalnya. Tapi telah meninggalkan begitu banyak kesan, tentang dirinya, harapannya, dan spiritnya. Ia telah pergi sebelum sempat mengucapkan kata berpisah, selain jabat tangan di akhir pertemuan di hari pertama dengan senyum termanisnya. Ia   meninggalkan aku, teman-temannya, orang tuanya dan seluruh saudaranya, tetangganya dan para penghuni pulau Ono Niha ini. *********Tak ada kata yang dapat kuucapkan selain linglung tiba-tiba menerpaku, saat di pagi buta Oni, yang bersamaku memfasilitasi pertemuan, mengetok kamarku dan dengan terbata-bata mengabarkan kepergianmu. Kepergianmu Merlyn. Seketika aku teringat Hpku, karna di hari pertemuan kita Merlyn, aku sempat sembunyi-sembunyi mengambil gambar seluruh peserta. Jantungku berdebar, aku menemukan fotomu terekam 3 jepretan di Hpku. Sungguh aku merasa bersukur sempat mengabadikanmu Merlyn. Padahal ini bukanlah kebiasaanku merekam peserta lewat kamera di Hpku. Ini kebetulan saja atau memang sudah ada kekuatan yang menggerakkanku. Ya, aku ingat, di pagi saat pertemuan Oni tiba-tiba meminta aku untuk merekam seluruh peserta. Padahal Ada Udin tim kami yang memang membawa kamera dan handycam yang memang tugas utamanya merekam seluruh proses. Dan entah mengapa pula Oni tak pula menggunakan Hpnya untuk merekam peserta. Ia memintaku Merlyn. Kaupun tersenyum Merlyn saat Udin menayangkan foto-foto adegan lucu saat di akhir pertemuan ia menayangkan perjalanan seharian saat training kita. Aku, Oni, Udin, Herman, dan Kasima, teman-teman yang kau tinggalkan kemudian sibuk membuka berbagai tumpukan kertas untuk melihat Potret dirimu saat berkenalan. Potret yang   kau lukis sendiri. Juga kami kemudian memeriksa kembali Isi Personal Mandala yang sempat kau buat hari itu. Kami kemudian mencoba membaca gambar, simbol, dan slogan yang kau coretkan.  Juga kutanyakan pada teman-teman sekelompokmu, ada Mawar, Ibu Ami, Kasima, dan Erna tentang apa saja yang sempat kau ceritakan saat menjelaskan isi personal mandalamu Merlyn. Inilah karya terakhir yang kau tinggalkan sebelum menutup mata selamanya meninggalkan dunia. Sungguh Merlyn, gambarmu penuh dengan pilihan warna yang suram dan gelap, tak seperti karya teman-temanmu yang bertaburan warna-warni. Aku membaca “keanehan” dari gambarmu Merlyn. Kau pun menulis Slogan, “Saya ingin Spt bintang yang menyinari Dunia”, tapi kenapa kau coret-coret, berusaha menghapus tulisan Dunia? Apakah ini sebagai “pertanda”? Anehnya pula Merlyn, kau menyimbulkan diri seperti matahari yang warnanya kuning gading yang sangat kabur. Pada pertanyaan apa yang ingin kamu capai, kaupun menggambar Jam yang jarumnya sama panjangnya mengarah pada angka 12 dan 3, dan itulah rentang waktu detik-detik saat kau terakhir menghembuskan nafasmu. Dalam personal mandala kaupun menuliskan sebuah kalimat disamping gambar sungai “aku ingin membantu manusia yang….” tak kau selesaikan kalimat itu Merlyn. Dan ada pula gambar mata yang kau buat, saat kutanya ke teman-temanmu, mereka mengatakan bahwa kau ingin melihat seluruh manusia, itu saja yang kau katakan. Makin penasaran menelisik gambar jalan yang lurus dan kaki yang hanya sebelah, sepertinya kau mengajak kami untuk menempuh perjalanan yang jauh dan lurus atau ini jalan yang sedang engkau lalui untuk mencapai-Nya. Dan kaupun menyelipkan gambar lilin yang nyaris padam……entahlah Merlyn begitu singkat pertemuan kita. Dan saat Oni bermain angka, kaupun mendapat bagian angka 6 dan angka ini pula tanggal kepergianmu meninggalkan kami. Angka 6 yang kau hubungkan sebagai anak ke enam dan pernah menjadi juara 6 bangga sekali saat kau mengatakan ini. Memang Merlyn, aku kagum padamu yang begitu tegar, penuh semangat sehingga kau tetap berjuang untuk mengikuti training–, kau tinggalkan murid-murid SD dimana kau abdikan sebagian hidupmu untuk mengatasi ketiadaan guru di kampungmu,– meski sesungguhnya kau sedang sakit. Ini baru kami ketahui, setelah kau tiada, karna  hari itu mesti pendiam tapi kelihatan ceria, dan menari-nari saat kelompokmu melakukan presentasi hasil diskusi dengan diawali oleh lagu dan yel-yel kelompok. Kenangan ini tentu takkan pernah kulupakan Merlyn dan seperti sms Mbak Budsi padaku saat aku mengabarkan tentang kepergianmu, begini bunyinya  “kalau melihat langit nanti malam, pasti ada bintang baru yang menyinari…..” dan itulah engkau Merlyn. Engkau telah menjadi bintang, dan dapat melihat seluruh manusia, seperti yang kau impikan. Selamat jalan, sahabat, Tuhan akan menyambutmu penuh kasih, sebagaimana engkau mengasihi kami, temuilah Ia dengan senyummu seperti engkau memberikan senyummu padaku dan teman-temanmu, temuilah Ia dengan kehangatan, seperti engkau memberi kehangatan kepadaku dan teman-temanmu yang kau tinggalkan. Dan inilah puisi yang ditulis Oni untukmu: Untukmu Sahabat!Putri Ono NihaTak kenal dimana bumi dipijak…Kau ingin seperti Bintang…Kau tunjukan kesabaran dan keteguhan dengan senyum hadapisaat-saat sulit…Gambar Jam mu,  tanda singkatnya waktu…Kau pilih angka 6 sebagai kenangan…Sahabatku, …Kau tinggalkan cahaya laksana Mataharimu…Segarkan jiwa laksana Sungaimu…Mata dan Kakimu memberi arah pada jalan…Kaulah jelamaan Lilin…
Selamat Jalan Kawan….!!!
Gunung Sitoli, 6 ferbruari’ 07 Hari Penuh duka saat training, 6 februari 2007, Sahabatmu,

Komentar ditutup.