|Catatan II: Sepatu Di Atas Meja|


Oleh: Budi Arianto | Penulis

Hari ini Sabtu, gerimis baru saja menghentikan rintiknya di pagi hari. Jam telah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Beberapa mahasiswaku telah berada dalam ruang kuliah sumbangan dari pemerintah Jepang melalui WALUBI. Aku segera meminta mereka membuka sepatu dan meletakkan di luar ruang, tepatnya di depan pintu masuk. Awalnya mereka ragu. Karna ini tak lazim mereka lakukan,–seperti kalau mau masuk ke masjid. Tapi aku memintanya —barangkali karna Dosen,–mereka menurut juga hehehe. Mahasiwa yang menyusul masuk pun langsung aku minta membuka sepatu. Wajah-wajah penuh tanya aku nikmati pagi ini. Aku biarkan saja.

Saat aku pastikan semua mahasiswa telah hadir dan mendengar satu lagu di awal kuliah, aku meminta mereka untuk masing-masing mengambil sepatu sebelah kiri.Hanya sebelah dan tidak boleh mengambil sepatu sendiri lalu membawanya ke dalam kelas. Keriuhanpun segera terjadi. Saat menenteng sepatu, kebetulan ada yang dapat “sial”, mendapat sepatu yang sangat bau, –barangkali sudah lama tidak dicuci atau memang pemiliknya kakinya bau, sehingga masuk kekelas dengan menutup hidungnya dan mual-mual. Gerrr pun terus terjadi. Sang pemilik pun langsung kelihatan memerah wajahnya, ketahuan deh. Apa boleh buat, mereka tetap melakukan.

Setelah itu, aku meminta mereka mencari siapa pemilik sepatu yang mereka
ambil tanpa boleh bertanya, —-ternyata mesti telah 2,5 tahun mereka bersama, masing-masing kurang mengenali sepatu teman-temannya sehingga bersalahan, akhirnya dengan bahasa isyarat mereka saling menemukan pemiliknya. Kecuali salah seorang yang tidak mendapatkan sepatunya. Tentu saja dengan wajah kebingungan dia coba mencarinya. Dan seorang yang lain tetap menenteng sepatu tapi tak ada yang mau mengakui sebagai pemiliknya. Setelah beberapa menit akhirnya aku buka “rahasia” bahwa aku telah menyembunyikan salah satu sepatu dan memasukkan sepatu lain yang sengaja kubawa dari rumah.
Pertanyaan pun segera aku lemparkan, apa pengalaman yang mereka dapatkan dan apa yang anda ingat dengan peristiwa pagi ini. Jawabannya beragam. Umumnya kemudian mereka mengingat kisah Cinderela. Tepat, seperti yang aku duga. Setelah itu aku meminta mereka membentuk kelompok dan langsung menyusun naskah drama tentang Cinderela. Aku beri waktu 30 menit, dan mereka akan mempresentasikan dengan mementaskan naskah tersebut paling lama 15 menit. Meskipun sedikit agak molor akhirnya merekapun berhasil mementaskan naskah Cinderela versi masing-masing. Begitulah pengantar awal mata kuliah Menulis dan Memahami Naskah Drama.

Sambil menjelaskan untuk memperkuat bagaimana menulis dan memahami naskah drama, aku mengaitkan dengan perbedaan drama tradisional yang tidak menggunakan naskah dan drama modern (teater) yang mutlak menjadi
cirinya, bahwa dialog telah tertuang dari naskah. Aku tiba-tiba membuka sepatu,–yang kebetulan agak kotor karna tanah becek lengket di sepatuku. Lalu aku letakkan sepatu sebelah kiri di atas meja. Aku lihat reaksi di wajah mahasiswaku agak kaget dan bengong. Terus aku meminta mereka untuk memberi apresiasi terhadap sepatu di atas meja. Sama seperti cerita di atas, Andapun boleh ikut mengapresiasinya. Cukup anda bayangkan peristiwanya, dan simpan dalam pikiran dan benak Anda apresiasinya.

Mahasiswaku kemudian menuliskan apresiasi mereka, sangat banyak dan beragam sudut pandang yang mereka gunakan. Ada yang tiba-tiba saat bercerita menangis karna pernah jadi korban salah tangkap, disiksa dan diinjak-injak dengan sepatu lars,–ini yang sangat membuat kelas jadi haru. banyak yang mengaitkan peristiwa ini pada saat konflik, sepatu simbol dari kekuasaan dan kekerasan yang semena-mena menghajar orang yang tidak bersalah. Ada yang membayangkan sepatu sebagai pot bunga. ada yang justru membuat dialog antara sepatu, laptop buku dan spidol dan tas ransel yang aku letakkan di atas meja. Cukup menarik dan hidup. Ada pula yang menceritakan ini perbuatan yang tidak sepatutnya karna sepatu semestinya itu dibawah bukan di atas meja (ini kemudian memancing diskusi tentang teks dan konteks, karna kalau di toko sepatu malah sepatu terletak di atas kepala). Ada pula yang menganggap bahwa ini adalah perbuatan dosen yang kurang ajar. Hahahahaha. Mereka bebas mengapresiasi dan merdeka seperti juga Anda.

Akhirnya, aku menutup kuliah dengan sedikit menjelaskan bahwa peristiwa yang baru saja berlalu itu adalah bagian “drama” yang aku golongkan dalam periode Postmodernisme. Lalu sedikit tambahan cerita tentang apa itu posmodernisme dan bagaimana bila dikaitkan dengan drama. Bukankah peristiwa tadi tanpa sutradara, karna sutradara telah mati. Bukankah peristiwa tadi tanpa pentas dan ligthing yang disiapkan. Bukankah peristiwa tadi mengingkari seluruh dramaturgi atau aturan dalam hukum drama. Bukankah peristiwa tadi mengangkangi seluruh aturan kaku bermain drama. Bukankah peristiwa tadi telah mengembalikan kepada anda sebagai manusia, sebagai aktor sekaligus sutradara, yang seutuhnya, yang bebas, yang merdeka menentukan sudut pandang, menentukan alur cerita dan melibatkan seluruh pendengar juga menjadi pemain sekaligus. Bukankah peristiwa tadi telah mengajak anda leluasa berimajinasi dan tak ada yang berhak memmenjarakan imajinasi anda. Ya imajinasi sepatu di atas meja. Imajinasi memang lebih penting dari kecerdasan. Silahkan Anda memetik pelajaran dari peristiwa-peistiwa ini.-selesai-

Komentar ditutup.