|Catatan I: Tentang X|

Oleh: Budi Arianto | Penulis
Hari ini kamis. Aku memasuki ruang 13.01.009. Jam telah menunjukkan pukul 12.05. Suasana agak terik memang. Berisik suara buku yang menampar-nampar angin terdengar di sana sini. Di luar aku masih sayup sayup mendengar canda tawa mahasiswaku. Saling berebut agar didengar. Riuh rendah. Seketika ruang kelas menjadi senyap. Tanpa bicara apapun aku mulai mengeluarkan laptop, dan tentu alat-alat “mengajar” beragam sepidol. Alat mengajar memang selalu aku bawa sendiri. Di kampus ini papan tulis masih berwarna hitam. Tentu pula selalu berpasangan dengan kapur tulis. Ah, aku benci kapur yang sering membuatku batuk. Tapi ini mungkin alasanku saja. Sebab aku penggemar berat rokok. Beruntung, di salah satu sudut ruangan aku temukan white board (WB) kecil. Aku tentu lebih memilih menggunakan alat ini. Lebih nyaman rasanya.

Setelah persiapan, aku mulai aksi. Menuliskan huruf X di WB. Cukup besar agar bisa terbaca sampai belakang, begitu maksud hatiku. Kejengkelanku yang lain ruang kuliah ini tak bisa diutak atik lagi. Soalnya seluruh bangkunya tersambung. Yah sudahlah aku menjadi bersendiri di depan kelas. Aku biarkan mahasiswaku membisu. Memang mereka sudah terbiasa aku beri kejutan. Bahkan mungkin menungguku memberi kejutan baru setiap aku masuk ruang kuliah. Ada saja memang “tingkah” yang kubuat. Terkadang sambil jalan menuju kelas aku baca puisi keras-keras. Nggak peduli pada siapapun. Toh paling-paling orang cuma menatap atau sedikit melirik dengan keheranan. Begitu pula saat kutinggalkan kelas sesekali tanpa kata salam penutup atau pamit basa-basi, tapi dengan baca puisi langsung ngeloyor ke tempat parkir roda dua yang berjarak sekitar 100 m dari ruang kuliah. Tentu saja Anda juga boleh mengapresiasi secara bebas, membayangkan, dan kira-kira anda akan memberi respons tertentu, cukup dipikiran anda dan simpan dalam hati. Seperti orang-orang di sekitar saat aku lakukan ini.

Oke, kembali tentang X aku kemudian melempar pertanyaan. Anda boleh juga ikut menjawabnya. Sederhana saja, aku cuma bertanya apa yang anda bayangkan dengan huruf X di depan dan silahkan hubungkan dengan apapun minimal 5 hal yang ada di benak anda. Aku beri waktu 10 menit untuk mahasiswaku menuliskan. Biar lebih santai aku pun memutar instrument lembutnya Vanesa Mae. Tepat pada waktunya aku meminta mereka membacakan. Hasilnya sungguh mengagumkan, beragam dan ternyata hanya dengan huruf X mampu menimbulkan berbagai makna dan hubungan, dari iklan rokok, tanda kematian, racun bahaya, mr X, sinar X, B3, dan banyak lagi. Tak berhenti di situ, aku kemudian meminta mereka memilih salah satu dari makna X itu dijadikan puisi. Luar biasa ternyata X mampu memancing imajinasi mereka menulis puisi tentang X. Tentu aku yang kemudian memanen 32 buah puisi tentang X.

Sesungguhnya, hari itu aku lagi kepingin saja membuktikan kekuatan otak kanan, dengan memberi “rangsangan” X, dan ini menjadi pembuka kuliah tentang proses kreatif penyair. Dan aku ingin membuktikan bahwa imajinasi itu bisa dibangun, dan bisa “dipanggil”. Jadi bila mau berkarya nggak harus susah-susah menunggu wangsit, mote, ilham, dan alasan lainnya. Cukup, “memetik jari” maka otak kita yang ajaib akan bekerja membuka memori yang telah terekam dalam file-file di otak. Sesederhana itu. Jadi mesti banyak penyair yang menuliskan berbagai proses kreatif yang seakan-akan begitu berat dan rumit berhalaman-halaman, ternyata menjadi sangat mudah bukan?.

Wajah mahasiswaku hari itu menjadi cukup ceria, paling tidak mereka mengalami langsung proses kreatif dirinya menulis puisi. Tanpa harus membaca berbab-bab dan mendengar berjam-jam ceramah. Cukup dengan kekuatan X. Dan kuliah pun aku tutup dengan meminta mereka membacakan puisi masing-masing secara bersama-sama dengan suara yang keras dan lantang. Bisa dibayangkan ruang kuliah jadi seperti keriuhan pasar. Diam-diam aku ngeloyor pergi…….biarlah transaksi dan interaksi berikutnya menjadi milik mereka untuk membahas mata kuliah Puisi yang sedang mereka pelajari dan aku Cuma mengajak mereka bermain-main menemukan sendiri?.-selesai-

Komentar ditutup.