|Sudah 22 Investor Tambang Masuk Aceh|


Harian Umum Serambi Indonesia | 5 Maret 2007 


BANDA ACEH – Pascakesepakatan damai (MoU) RI-GAM yang melahirkan UU Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan disusul kemudian sukses pilkadasung yang mengukuhkan Irwandi-Nazar sebagai gubernur/wakil gubernur Aceh, telah membawa dampak positif bagi penanaman modal di daerah ini.
 Menurut informasi yang diterima Serambi, hingga akhir Februari 2007, jumlah investor tambang yang telah masuk dan mendapat izin kuasa pertambangan (KP) dari Dinas Pertambangan dan Energi Aceh mencapai 22 perusahaan. Delapan di antaranya akan meneliti (eksplorasi) deposit dan sekaligus memproduksi (eksploitasi) tambang emas.Kepala Dinas Pertambangan Aceh, Aka Jauhari didampingi Kasubdin Penataan Wilayah dan Konservasi Pertambangan, Ira Pria Utama kepada Serambi, Minggu (4/3) mengatakan, pascakesepakatan damai RI-GAM yang telah melahirkan UU Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, dan terlaksanakanya pemilihan kepala daerah secara langsung dan demokratis pada akhir tahun lalu, telah memberikan dampak positif bagi penanaman modal di Aceh.Sebelum damai (1994-2004), sebut Ira, ada sembilan perusahaan yang telah mendapat izin Kuasa Pertambangan (KP). Semuanya berstatus penanaman modal asing (PMA). Dari jumlah itu, sampai menjelang terjadi bencana gempa dan tsunami, 26 Desember 2004, tinggal satu perusahaan lagi yang bertahan ingin melanjutkan izin KP-nya, yaitu PT Woyla Aceh Mineral.Setelah damai dan suksesnya pemilihan Gubernur Aceh plus 19 bupati/walikota, hampir setiap bulan, ungkap Ira, investor tambang nasional dan luar negeri mendatangi Kantor Dinas Pertambangan dan Energi Aceh untuk minta izin KP terhadap bahan tambang yang akan dieksplorasi dan eksploitasi. Begitu juga dari kabupaten/kota ada saja surat permohonan izin kuasa pertambangan yang masuk untuk minta izin serupa.

Sampai akhir bulan lalu, sebut Ira, jumlah pengusaha tambang yang telah mengajukan permohonan izin kuasa pertambangan sudah mencapai 34 perusahaan lebih. Tapi, yang telah mendapat izin kuasa pertambangan eksplorasi (penelitian) sudah 22 perusahaan, delapan di antaranya akan melakukan penelitian emas di sejumlah kabupaten/kota. Di antaranya, PT Bintang Agung Maining, PT Mulia Kencana dan Multi Mineral Utama. Perusahaan ini akan melakukan penelitian emas di Aceh Selatan.

PT Gold Mine Sejati, Kencana Mineral Mulia, PT Sari Gold Murni, PT Hasil Tambang Lestari, dan PT Tradisi Tirta Kencana akan meneliti emas di Nagan Raya, dan masih banyak lainnya yang belum dilapor oleh pihak kabupaten/kota ke provinsi. Misalnya, lanjut Ira, di Aceh Tengah, Pidie, dan Aceh Barat.

Tertariknya sejumlah investor dari luar ingin menambang emas di Aceh, menurut Ira, karena di Aceh terdapat dua sumber potensi tambang emas, yaitu tambang emas primer dan emas sekunder. Tambang emas primer adalah emas yang terdapat dalam batuan. Untuk mendapatkannya, terlebih dahulu harus menhancurkan lapisan batuannya. Contohnya, yang ditambang rakyat secara tradisional di Manggamat, Aceh Selatan.

Sedangkan yang dimaksud dengan emas sekunder adalah emas butiran kecil-kecil yang terdapat dalam sungai yang ditambang rakyat secara tradisional seperti yang dilakukan selama ini di empat lokasi, yaitu Krueng Cut dan Krueng Nila di Kabupaten Nagan Raya, serta Krueng Meurebo, dan Sungaimas di Aceh Barat.

Selain emas, ungkap Ira, masih banyak lagi bahan tambang yang menarik di Aceh. Di antaranya batubara, bijih besi, timah hitam dan lainnya. Untuk batu bara, sudah ada investor yang akan mengeksploitasi atau memproduksinya, yaitu PT Mifa Bersaudara. Perusahaan ini dikabarkan akan mengeksploitasi batu bara di Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat.(her)

Komentar ditutup.