|Gubernur Buru Penebang Hutan|

Harian Umum Serambi Indonesia | 5 Maret 2007 

BIREUEN – Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf mulai melancarkan “serangan gerilya” terhadap penebang hutan. Aksi tersebut ditandai dengan melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke sejumlah panglong kayu dan kawasan yang diduga masih adanya aktivitas penebangan liar di pedalaman Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Sabtu (3/3). 

Kegiatan tak terjadwal dan tidak diketahui oleh pihak manapun––termasuk wartawan––yang dilakukan Gubernur Irwandi itu merupakan salah satu bukti keseriusannya dalam upaya memberantas illegal logging di Aceh. “Serangan gerilya” yang dilancarkan gubernur hingga ke kawasan Gunung Sangkilat (berjarak sekitar 30 Km selatan Peudada) dimaksudkan untuk melihat secara langsung bukti masih adanya penebangan liar yang dilakukan oleh pihak tak bertanggung jawab.Untuk tujuan tersebut, gubernur yang bergerak dari Banda Aceh sekitar pukul 10.30 WIB, Sabtu (3/3) langsung menuju ke lokasi dengan tidak memberitahukannya kepada pihak terkait di Kabupaten Bireuen. Setibanya di lokasi, gubernur melakukan Sidak ke beberapa panglong kayu yang diduga sebagai tempat yang hingga kini masih mengolah kayu ilegal.

Panglong pertama yang dikunjungi gubernur adalah CV Irwanka milik Kopontren Najmussalam Bireuen di bawah tanggungjawab H Jaswadi. Panglong yang berlokasi di Kecamatan Plimbang itu merupakan salah satu panglong yang memiliki Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu (IUIPHHK) dari Dishut. Kendati tak ditemukan sejumlah kayu log dan tak terlihat adanya aktifitas di panglong tersebut saat dikunjungi, namun gubernur berkeyakinan panglong itu hingga beberapa waktu lalu masih melakukan pengolahan kayu ilegal.

“Kayu bulat memang tak ada lagi di sini. Tapi, dari bau kayu yang sudah diolah dan warna dedak kayu sepertinya panglong ini baru saja selesai mengolah kayu. Panglong ini memang punya izin, namun mulai tahun 2007 tidak ada lagi izin untuk menebang kayu. Jadi, bila panglong mengolah kayu hasil tebangan 2007, itu berarti panglong mengolah kayu ilegal,” kata Irwandi kepada Serambi yang ikut dalam rombongan di sela-sela peninjauan mendadak tersebut.

Dari Plimbang, gubernur dan rombongan bergerak ke panglong yang kedua (PT Panto Teungku Abadi). Di panglong milik H Ali yang lokasinya termasuk dalam Kecamatan Peudada itu gubernur juga tak menemukan kayu log. Di lokasi yang sepertinya sudah lama tak beroperasi itu, hanya ditemukan beberapa alat berat yang sedang parkir serta terlihat sejumlah pekerja dan para penjaga. Panglong tersebut juga mempunyai IUIPHHK dari Dishut.

Merasa belum puas dengan hasil temuannya, gubernur kemudian melanjutkan perjalanan hingga ke panglong ketiga yang menurut gubernur juga milik H Jaswadi. Di Panglong dengan nama CV Mitra yang lokasinya juga di Kecamatan Peudada itu, gubernur menemukan beberapa batang kayu log. Setelah penemuan itu, petualangan gubernur ternyata tak berakhir sampai di situ. Dengan penemuan tersebut membuat gubernur semakin penasaran untuk melihat langsung lokasi penebangan kayu secara ilegal.

Tak pelak, walau dengan harus melewati jalan yang sangat sulit (berbatu, berlumpur, dan menaiki perbukitan yang tinggi), gubernur nekad melanjutkan “serangan gerilya” hingga ke kawasan Gunung Sangkilat. Walaupun tak menemukan aktifitas penebangan secara langsung yang dilakukan oleh oknum pengusaha, namun di sepanjang perjalanan gubernur menemukan sejumlah bukti yang mengindikasikan masih adanya penebangan liar di daerah tersebut.

Di antara bukti yang ditemukan adalah sebuah mobil dan beberapa alat berat yang parkir di dekat sebuah kamp di kawasan Alue Batee Meuasah (Peudada), tumpukan kayu log di sejumlah titik, banyak kayu yang telah ditebang namun dibiarkan begitu saja. Kecuali itu, gubernur juga bertemu dengan sejumlah masyarakat yang sedang mengolah kayu buangan perusahaan itu untuk dijadikan sebagai balok.

Dalam dialog dengan masyarakat di lokasi itu, gubernur meminta mereka untuk tidak lagi berada di lokasi tersebut dan segera turun ke kampung masing-masing.

Tak punya kekuatan

Setelah melakukan peninjauan yang melelahkan itu, akhirnya menjelang pukul 18.00 WIB, Sabtu (3/3) gubernur turun dari lokasi tersebut. Di tengah perjalanan pulang, gubernur juga menyempatkan diri singgah di lokasi pencanangan bangkit kedelai Kabupaten Bireuen 2007 di Desa Balee Daka, Plimbang, Bireuen.

Di lokasi tersebut, gubernur sempat melakukan dialog dengan Kadis Kehutanan dan Perkebunan Bireuen, Suryadi A Gani dan Bustami Hamid selaku Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Bireuen.

Dalam dialog itu, gubernur mempertanyakan mengapa tidak ada pihak yang turun tangan untuk menangani masalah illegal logging di Kabupaten Bireuen, khususnya di Kecamatan Peudada dan Plimbang. Kecuali kepada Kadis Kehutanan dan Perkebunan Bireuen, hal yang sama juga ditanyakan gubernur ke Camat Plimbang, M Isa yang kebetulan juga hadir ke lokasi tersebut.

Mendengar pertanyaan itu, Suryadi mengatakan bahwa selama ini dirinya tidak punya kekuatan untuk menghentikan aktifitas illegal logging itu. “Selama ini terus terang, Pak, kami dari dinas tidak ada kekuatan untuk mengatasi hal tersebut. Tapi, sekarang kalau sudah ada dukungan dari Bapak maka saya siap untuk melakukan hal tersebut yang tentunya saya harus terlebih dahulu berkoordinasi dengan Pak Bupati dan Pak Kapolres,” jawab Suryadi.

Mendengar jawaban itu, gubernur mengatakan salah satu kekuatan yang bisa digunakan adalah media. “Penebangan kayu itu hanya menguntungkan beberapa orang saja. Tapi kalau waktu banjir yang kena seluruh masyarakat, termasuk anak-anak yang memang tak pernah terlibat dalam masalah tersebut. Jadi kalau Bapak mau, pasti Bapak ada kekuatan. Salah satunya coba Bapak sampaikan ke media,” ujar Irwandi menyarankan Suryadi.

Ditanya gubernur apakah dirinya sanggup melaksanakan hal tersebut, Suryadi mengatakan akan melaksanakan perintah tersebut. “Kalau perintah Bapak saya sanggup laksanakan. Selama ini saya tidak berani karena tidak ada dukungan,” timpal Suryadi.

Ditanya apakah ia terlibat dalam komplotan penebang kayu itu, Suryadi mengatakan, “Saya tak terlibat. Ikhlas saya pak tak terlibat sedikit pun dalam masalah tersebut.”

Karena itu, gubernur meminta kepada Kadis Kehutanan dan Perkebunan Bireuen segera melakukan koordinasi dengan pihak terkait lainnya untuk menuntaskan masalah illegal logging tersebut dan menemukan bukti tentang masih adanya penebangan liar di tahun ini. “Mulai 2007 tak ada lagi izin untuk menebang kayu. Kira-kira setahu Bapak masih ada nggak penebangan kayu pada tahun ini. Kalau ada, coba Bapak cari tahu buktinya,” tandas Irwandi.

Ditanya Serambi apa kendala yang dihadapi pihaknya sehingga tidak memberantas illegal logging itu, Suryadi mengatakan, dengan jumlah hutan sekitar 62 ribu hektare di seluruh Kabupaten Bireuen pihaknya merasa kesulitan karena berbagai kekurangan. Kekurangan itu, sebut Suryadi antara lain, kurang tenaga Polisi Hutan (Polhut) dan tidak adanya fasilitas yang memadai.

Setelah itu, gubernur beserta rombongan melanjutkan perjalanan ke sebuah panglong yang juga milik H Jaswadi, namun mengatasnamakan salah seorang warga di daerah tersebut. Panglong yang diduga ilegal itu tergolong kecil bila dibandingkan dengan dua panglong sebelumnya terletak di kawasan pucuk Krueng Nalan, Pandrah.

Kepada Serambi usai sidak tersebut, Irwandi meminta semua pihak untuk segera menghentikan penebangan hutan dengan dalih apapun, termasuk membuka lahan pertanian baru. Kecuali itu, gubernur juga meminta aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan tegas terhadap pihak yang selama ini telah merambah hutan secara membabi buta.

“Menurut saya aparat penegak hukum jangan diam saja. Kalau memang benar ingin menegakkan hukum, coba tegakkan hukum,” harapnya sambil menambahkan bahwa kunjungannya hingga ke lokasi yang diduga sebagai lokasi illegal logging adalah bentuk warning kepada para pengusaha untuk segera menghentikan aktifitasnya. “Mudah-mudahan ini akan di-copy oleh para pelaku illegal logging,” harapnya.

Ditanya apa yang mendasari dirinya melakukan sidak hingga ke perbukitan di pedalaman Peudada itu, Irwandi mengatakan, sejak dulu dirinya sudah mengetahui ada hal yang tidak beres di kawasan tersebut. “Sejak dulu saya sudah tahu bahwa ada yang tidak benar. Saya meninjau karena saya dengar masih ada penebangan kayu. Sedangkan 2007 ini tidak ada izin untuk menebang kayu. Jika Panglong masih ada yang olah kayu itu bararti mereka mengolah kayu ilegal,” ujarnya.

Dalam perjalanan ke lokasi, pada Sabtu (3/3) pagi gubernur juga sempat melakukan sidak ke salah satu SMA di Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar. Penegasan serupa agar menghentikan aktifitas penebangan hutan juga disampaikan gubernur pada acara pencanganan bangkit kedelai Kabupaten Bireuen 2007 di Desa Balee Daka, Kecamatan Plimbang, Minggu (4/3).

Setelah menghadiri acara pencanangan tersebut, gubernur meninjau sejumlah usaha mandiri masyarakat, di antaranya lokasi peternakan Koperasi Batee Kapai, Matang Kulee, Plimbang dan lokasi pembibitan ternak sapi oleh kelompok Tgk Meureuhom Chik di Desa Ara Bungong, Kecamatan Peudada.(jal/yus)

Komentar ditutup.