|Di Daerah Bekas Tsunami: Sumur Penduduk Tercemar Bahan Organik Berbahaya|


Harian Umum Serambi Indonesia | 5 Maret 2007 

BANDA ACEH – Hasil penelitian awal yang dilakukan Bappedalda Aceh menemukan pencemaran bahan organik seperti amoniak, nitrit, sulfat dan lainnya pada sumur penduduk di daerah-daerah bekas tsunami di Aceh. Hasil penelitian itu diberitahukan secara terbatas oleh pihak Bappedalda kepada pemilik sumur, sedangkan informasi secara meluas belum dilakukan karena tak punya anggaran jika muncul tuntutan dari masyarakat untuk penanggulangan dampak pencemaran. 


Kepala Bapedalda Aceh, Ir Teuku Said Mustafa kepada Serambi, Minggu (4/3) mengatakan, berdasarkan penelitian tahap awal yang dilakukan pihaknya terungkap sebagian besar sumur penduduk di daerah bekas gempa dan tsunami tercemar dengan bahan organik seperti amoniak, nitrit, sulfat, dan lainnya.
Seorang peneliti dan ahli nuklir dari Badan Atom Nasional (Batan), Dr Ali Lubis menjelaskan, air sumur yang telah tercemar logam berat dan bahan organik seperti nitrit, amoniak, sulfat, dan lainnya tidak boleh digunakan apalagi diminum karena sangat berbahaya. Dampak yang ditimbulkan terhadap kesehatan jika menggunakan air sumur yang telah tercemar logam berat dan bahan organik ada yang bersifat langsung tapi ada juga yang tidak langsung. Dampak jangka panjang bisa timbul setelah lima atau 10 tahun kemudian.

Harusnya diumumkan


Menanggapi penjelasan Dr Ali Lubis dari Batan serta hasil penelitian awal yang dilakukan Bapedalda Aceh, dua anggota DPR Aceh yaitu Ikhwan dari F-PBB yang membidangi lingkungan hidup, dan Fuadi dari F-PKS mengatakan, Bapedalda selaku badan teknis harus memberitahukan penanggulangan dampak dari pencemaran bahan organik itu kepada masyarakat.


Tetapi pada kenyataannya, berdasarkan penelusuran Serambi, pihak Bappedalda tidak mengumumkan hasil penelitian itu secara luas, melainkan pemberitahuan secara “lokalan” kepada pemilik sumur yang diteliti. Pihak Bappedalda beralasan belum berani mengumumkan secara luas karena lembaga itu tak punya anggaran jika masyarakat menuntut penanggulangan dampak dari pencemaran.


Anggota DPR Aceh, Ikhwan merincikan, berdasarkan hasil penelitian awal yang dilakukan Bappedalda NAD menunjukkan tingkat pencemaran sumur penduduk di daerah-daerah bekas tsunami sudah pada tahap mengkhawatirkan.


Misalnya di desa-desa dalam kawasan Kota Banda Aceh, seperti Desa Tibang, kadar pencemaran amoniaknya berkisar 16,527-84,358 mgr/l, sedangkan toleransi normal maksimalnya hanya 0,5 mgr/l. Di Alue Naga kadar amoniaknya mencapai 10,688 mgr/l, Rukoh 19,499 mgr/l, Darussalam 5,740-7,101 mgr/l, Lamgugop 2,262-5,740 mgr/l, Syiah Kuala 12,659 mgr/l, Jeulingke 12,559 mgr/l, Lambaro Skep 36,809 mgr/l, Lampulo 8,681-11,481 mgr/l, Lampaseh Kota 71,01 mgr/l, Kampung Pande 24,139-63,712 mgr/l, Kampung Mulia 3,222-12,721 mgr/l, dan Kampung Keramat 2,179-6,047 mgr/l.


Sedangkan di Desa Lamteh dan Lambhuk yang tidak terkena tsunami, namun akibat gempa terjadi pergeseran kerak dan lempengan lapisan bumi, maka kadar amoniak dalam sumur penduduknya juga melampui batas ambang batas 0,5 mgr/l. Misalnya di Lamteh mencapai 1,704-3,910 mgr/l, dan Lambuk 1,704-3,910 mgr/l, Lamglumpang 1,706-3,911 mgr/l, Ie Masen Ulee Kareng 2,685 mgr/l, Pango Deah 1,706 mgr/l. Pihak Bappedalda merekomendasikan terhadap sumur yang tingkat pencemaran amoniaknya masih tinggi, air sumurnya belum layak untuk diminum.


Minta bantuan Batan


Kepala Bappedalda NAD, Said Mustafa mengatakan, untuk memastikan apakah sumur penduduk di daerah-daerah bekas tsunami juga tercemar logam berat, pihaknya tak punya kemampuan untuk memastikan karena laboratorium yang dimiliki Bappedalda tidak mampu menganalisa.

“Untuk mengetahui ada atau tidaknya pencemaran logam berat pada sumur penduduk, kita sudah minta bantu Badan Tenaga Atom Nasional (Batan),” ujar Said.


Menurut Said, pihak Batan menyatakan siap untuk membantu. Tapi karena pada tahun 2006 lembaga itu juga belum punya dana untuk melakukan penelitian, makanya belum bisa terlaksana.


Pada tahun 2007 ini, menurut Dr Ali Lubis, Batan siap membantu memeriksa air sumur penduduk pada daerah-daerah bekas tsunami di Aceh yang diduga tercemar logam berat.


Namun, katanya, untuk penelitian itu butuh dana yang besar dan alokasi anggaran pada tahun 2007 ini belum turun. Karena itu, jika Pemda Aceh atau BRR NAD-Nias serta lembaga donor lainnya sanggup menyediakan dananya, Batan siap menurunkan tim peneliti untuk memeriksa dan sekaligus menganalisis air sumur penduduk di daerah bekas tsunami Aceh apakah tercemar logam berat atau tidak.


Menurut ahli nuklir Batan tersebut, merehab dan merekontruksi Aceh pascatsunami tidak cukup dengan hanya membangun infrastruktur, seperti memberikan bantuan rumah, listrik, memperbaiki jalan, jembatan, dan pelabuhan. Tapi yang tidak kalah penting adalah menyediakan sanitasi yang berkualitas, di antaranya adalah air minum yang bebas dari pencemaran logam berat dan bahan organik.


Menanggapi itu, anggota DPR Aceh, Ikhwan dan Fuadi menyarankan Pemda NAD perlu mengalokasikan anggaran cukup besar. “Terutama untuk menyelidiki dugaan pencemaran logam berat dan pembersihan sumur penduduk yang telah tercemar bahan organik tersebut,” ujar Ikhwan.(her)

Komentar ditutup.