Kotak Pandora Rekonstruksi Aceh

Oleh : Dewa Gumay

Jika kita cermati bersama, proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh hari ini kian tidak menunjukkan rasionalitasnya dan cenderung hipokrit. Lembaga yang paling bertanggung jawab dalam memimpin proses rekonstruksi Aceh, BRR Aceh-Nias justru setali tiga uang dengan pelaku rekonstruksi lainnya, lembaga yang seharusnya bertindak sebagai katalisator dan dinamisator baik dalam kebijakan dan implementasi, justru mandul disaat korban tsunami membutuhkan tangan mereka dalam menindak pelaku rekonstruksi yang nakal.

Pesan “Build Back Better” BRR Aceh-Nias terbukti hipokrit atau tak lebih dari jargon-jargon belaka, korbannya adalah masyarakat Deyah Rayah Kecamatan Syiah Kuala – Banda Aceh, 204 buah rumah korban tsunami dibangun dengan menggunakan bahan asbes oleh yayasan bakrie, dan celakanya dari atap sampai dinding rumah semuanya menggunakan bahan asbes.

Ada apa dengan Asbes

Asbes adalah istilah pasar untuk bermacam-macam mineral yang dapat dipisah-pisahkan hingga menjadi serabut yang fleksibel. Berdasarkan komposisi mineralnya, asbes dapat digolongkan menjadi dua bagian. Golongan serpentin; yaitu mineral krisotil yang merupakan hidroksida magnesium silikat dengan komposisi Mg6(OH)6(Si4O11) H2O, Golongan amfibol; yaitu mineral krosidolit, antofilit, amosit, aktinolit dan tremolit. Walaupun sudah jelas mineral asbes terdiri dari silikat-silikat kompleks, tetapi dalam menulis komposisi mineral asbes terdapat perbedaan. Semula dianggap bahwa silikatnya terdiri dari molekul Si11O12. Akan tetapi berdasarkan hasil penyelidikan sinar-X, sebenarnya silikat-silikat itu terdiri dari molekul-molekul Si4O11.

Beberapa tinjauan kasus kematian akibat menghirup udara yang tercemar asbes menyimpulkan bahwa, 94 persen penggunaan Asbes didunia mengandung bahan Chrysotile atau hidroksida magnesium silikat dengan komposisi Mg6(OH)6(Si4O11)H2O, Chrysotile merupakan bahan mineral yang bersifat Karsinogen pemicu penyakit kanker yang akan menyerang rongga dada, paru-paru, dan perut. Proses terinfeksinya melalui udara yang telah tercemar oleh debu Asbes kemudian dihirup oleh Manusia. Penggunaan Asbes telah banyak menimbulkan kematian pada korban, contoh kasus di Negara Jepang, akibat menghirup udara yang tercemar Asbes, 500 orang meninggal dunia pada tahun 1995, dan meningkat menjadi 878 orang pada tahun 2003, sehingga pemerintah Jepang melarang penggunaan Asbes.

Proses keracunan Asbes tidak terjadi secara seketika, racun Chrysotile akan menyerang manusia secara akumulatif, proses terinfeksi Chrysotile akan memicu terjadi kanker pada manusia dalam waktu puluhan tahun kemudian, ketika korban secara terus-menerus menghirup debu asbes yang mengandung Chrysotile maka korban akan terkena penyakit kanker, yang bisa menyebabkan kematian.

BRR Pembuka Kotak Pandora

Ditengah persoalan yang terjadi, kita patut memberikan apresiasi positif kepada Deputy perumahan dan pemukiman BRR Aceh-Nias, saudara Andy Siswanto dan Kepala pusat pengendalian lingkungan dan konservasi, saudara R. Pamekas yang telah mengeluarkan rekomendasi pelarangan penggunaan bahan asbes dalam pembangunan rumah korban tsunami, yang tertuang dalam Memorandum internal BRR Aceh-Nias.

Saudara R. Pamekas – Kepala pusat pengendalian lingkungan dan konservasi dalam memorandumnya, No. M-608/BRR.4.4/XII, tanggal 29 Desember 2006, memaparkan tentang bahaya penggunaan bahan asbes dan kandungan chrysotile yang digunakan oleh yayasan bakrie dalam pembangunan rumah di Desa Dayah Rayah, memorandum tersebut kemudian direspon oleh saudara Andy Siswanti selaku Deputy perumahan dan pemukiman BRR Aceh-Nias dengan lebih tegas lagi dalam memorandumnya No. M-010/BRR.08/I/2007, tanggal 8 Januari 2007.

Memorandum yang telah dikeluarkan oleh kedua pejabat di BRR Aceh-Nias tersebut merupakan awal terbukanya “Kotak Pandora” atau kotak kematian yang akan mengancam ratusan nyawa manusia, berkaitan dengan penggunaan bahan asbes. Siapa yang tidak takut dengan istilah kotak pandora, kotak kematian ini berhasil dibuka oleh BRR Aceh-Nias.

Kebijakan Setengah Hati BRR

Apakah selesai persoalannya dengan dikeluarkannya kedua memorandum tersebut ? belum, bahkan bertambah rumit, memorandum yang dikeluarkan oleh kedua pejabat BRR tersebut hanyalah kebijakan yang berlaku pada tingkat internal BRR, tidak mengikat konstituen dan pelaku rekonstruksi lainnya, sehingga persoalan ini tidak pernah selesai menjadi sebuah keputusan final. BRR Aceh-Nias selaku pemimpin dalam proses rekonstruksi tidah pernah menindak lanjuti memorandum tersebut menjadi sebuah keputusan secara kelembagaan yang akan mengikat seluruh pihak yang bekerja pada housing, baik lembaga lokal, nasional, dan international.

Apakah KM – Kepala Bapel takut menindak yayasan bakrie ? Pertanyaan ini selalu menggelitik kita, karena pemilik yayasan bakrie adalah Aburizal Bakrie, menteri pada kabinet SBY-JK, bahkan bahan asbes yang digunakan yayasan bakrie untuk membangun rumah korban tsunami di Desa Deyah Rayah berasal dari pabrik PT. Bakrie Groups. Ketidakjelasan BRR dalam menindak dan memutuskan persoalan ini memunculkan dugaan bahwa KM takut menghadapi Bakrie.

Padahal, ditengah keraguan publik terhadap kinerja yang buruk dan lamban BRR akhir-akhir ini, dapat dijadikan momentum untuk menjawab tuduhan publik tersebut. Akhirnya “Kotak Pandora” telah dibuka oleh BRR, dan mereka pulalah yang harus menutupnya dengan tanda tangan KM dan stempel BRR Aceh-Nias sebelum meninggalkan Aceh pada April 2009.-selesai-

Komentar ditutup.