Beudoh


“Beudoh, beudoh”, teriakannya memenuhi ruangan tidur yang sebentar lagi interior-nya akan berubah menjadi ruang rapat kantor.

Suara itu begitu kukenal dan kerap membuat kuping panas saat terlibat perdebatan yang tidak perlu dengannya. Namanya Azmi, orang asli gampong blangcut, dibanding aku dia jauh lebih dulu berada ditempat ini, aku sempat terlamun saat mengingat pertama kali tiba dikota ujung utara sumatera, Azmi lah yang pertama menyambut, dengan gaya khas-nya menceritakan soal kota yang sebentar lagi akan kugeluti, setelah berapa lama aku baru tahu bahwa segala urusan kebersihan kantor ini menjadi tanggung jawabnya.

“Ah, dia tidak berubah”, gumanku.

Kupaksakan bangun tanpa keluar serapah kotor yang biasa kuucapkan ketika aku masih bergelut dikota Palembang, entahlah, pagi ini terasa berat untuk meladeni caci maki Azmi. Kuangkat tilam yang mengalasi badanku malam tadi ke ruang belakang, tapi hasrat untuk tidur masih mengotori kepala. Tilam yang kuangkat kubentang lagi menyampingi Mang Goik yang masih lelap, karena semalam kami baru tidur jam empat subuh.

“Beudoh, beudoh”,
“Azmi”, gumanku, pagi ini tak beda dengan pagi-pagi sebelumnya, suara serak yang bikin kuping panas. Beudoh-beudoh kerap jadi lelucon, bukan tidur pun orang-orang pasti menyebut Beudoh-beudoh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s