Hutan dan Lingkungan Aceh

Entries categorized as ‘Poet’

Ideku Membusuk

09/06/2007 · 6 Comments

Oleh: Dewa Gumay

Kau tahu dalam setiap pergulatan sejarah
Aku kalah
Bahkan, jauh setelah perang
Aku telah dilupakan

Nietzsche benar tentang penggadaian idealisme
Seperti jurnalis menggadaikan jurnalistiknya
Mereka telah dilupakan Jauh setelah perang berakhir
Dan, Jenderal yang mendapat bintang

(more…)

Categories: Goemay :::

|Kunjungan Jurnalis|

03/17/2007 · Comments Off

Oleh: Budi Arianto | Penulis Ujung SumateraHari ini, seorang pegiat media “berkunjung” tak sengaja ke ruang tempat aku sedang belajar bersama tentang CO dengan teman-teman Transparansi International. Tepatnya para pengurus komite masyarakat sadar anggaran, — begitu layaknya yang kami sebut para peserta. Karena mereka adalah orang -orang yang terseleksi dan masih memiliki komidmen yang kuat untuk peduli terhadap berbagai penyelewengan yang terjadi dalam proses pembangunan. Kumpulan orang-orang “langka” inilah yang sedang berolah pikir, bertukar makna tetang sebuah pengorganisasian rakyat. Dan itulah yang disaksikan seorang jurnalis di ruangan ini.Seperti tak percaya pada pandangannya, sang jurnalis ini, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan belajar. Ruangan yang telah dipenuhi oleh berbagai kreatifitas dalam bentuk grafity, symbol, gambar, tentang berbagai tema. Tak hanya di dinding-dinding yang bertaburan ide, gagasan yang tertuang lewat gambar. Bahkan di plafon ruangan pun bergelantungan kliping koran dan majalah yang telah membentuk alur cerita tentang proses pengorganisasian. Baik mulai dari identivikasi masalah, klasifikasi hingga bagaimana gambaran upaya pemecahannya serta apa yang dikerjakan organizer, –seperti yang mereka mimpikan mencapai kondisi ideal perubahan. Tak hanya itu, di sudut-sudut meja juga terpampang sekolah, jembatan kecil hingga jembatan besar yang dirangkai dari sedotan plastik, yang berdesak-desakan dengan boneka-boneka kesayanganku.Tak kusangka, sang jurnalis ini, kemudian justru membuang waktunya untuk “menonton” seharian pelatihan ini. Sesekali ia ikut mengayunkan kakinya saat peserta sedang bernyanyi tentang “perahu Tenggelam” sebagai media mereka untuk membentuk kelompok. Aku menyebutnya peristiwa Titanic. Ini Tetanic imajinatif, kenapa? Soalnya mana ada titanic yang didayung hahahha. Mau tahu bagaimana cara memainkannya, sederhana kok. Pertama mintalah seluruh peserta membentuk kapal (jangan lupa awali dulu dengan lagu, aku lupa judulnya, lagu yang mengiringi film titanic itu lho). Setelah itu matikan lagu. Dan tawarkan ke mereka lagu tentang perahu, ditambah gerakannya mulai dari mendayung, kena ombak, hingga perahu bergoyang. Nah pada akhir lagu tinggal menyebut perahu tenggelam, sekoci hanya muat untuk, misal; 5 orang, ulangi beberapa kali sampai kelompok terbentuk sesuai dengan jumlah peserta.Pada saat istirahat, lelaki muda yang sebagian kepalanya tidak ditumbuhi rambut ini, mulai beraksi. Ia mengamati seluruh gambar-gambar dan menanyakan kepadaku bagaimana mereka menghasilkan itu dan makna dibalik gambar gambar itu. Ia terbengong dan berkomentar, “bagus sekali, mestinya training jurnalistik yang baru kami lakukan dibuat seperti ini, kelihatan lebih asik dan tidak membosankan, ” katanya memuji. “Mudah-mudahan nanti kalau kami buat training akan kuminta Anda membantu kami,” tambahnya. Tentu aku hanya senyum sebagaimana biasanya. Setelah istirahat saat sessi siang ia pun terus mengikutinya, tentu saja ini menambah semangatku untuk terus berproses lebih baik lagi.

Categories: Poet

|Bali: Inspirasi Titik Nol|

03/14/2007 · Comments Off

Oleh: Budi Arianto | Penulis Ujung SumateraMalam ini, bulan tak lagi utuh, menandakan ramadhan telah melewati setengah jalan. Sunyi dikampungku, tak membuat sepi suasana hati. Ada gelisah menyembul diam-diam. Aku mengenang Bali, menatap bulan dan bau dupa. Mengalirkan energi bathin, meraba imajinasi. Sebentar aku terkapar, memandang bulan menerawang kenangan. Di Bali aku mengosongkan diri, memotret diri, meraih cinta. Kembali ke titik nol: Siapa sesungguhnya dan sebenarnya aku? Dari titik nol, aku mengacak-acak makna inspirasi dan motivasi yang menggebu. Inspirasi mengubah pikiran, memendam keangkuhan. Begitulah dalam mengelola pertemuan. Diawali menjadikan semua “tiada”, –membebaskan setiap orang dari kungkungan jabatan,pangkat dan kehormatan. Setiap orang beranjak dari titik yang sama Nol. Start yang sama bisa bernilai beda: tergantung olah pikir, kemauan dan kemampuan dalam memperlakukannya sehingga menjadi “ada”. Menjadi “ada” itulah motivasi, semangat dan upaya mengubah tindakan. Ia tak akan tumbuh dan berkembang dari dorongan luar. Tapi ia tumbuh dari diri sendiri,– dunia dalam (inner life) manusia. Karena  itu, sulit memotivasi orang karena ia hanya lahir dari keinginannya sendiri untuk berubah. Itulah yang diperankan Dani dan Budsi, ia telah “mengilhami”, memberi inspirasi –membuat kita menjadi nol, tapi menerangi jalan seperti bulan dan kita meraih motivasi, menata road map sendiri untuk melangkah, mengais mimpi, meraih cita, mencapai tujuan. Aku mulai meraba bahwa motivasi berarti memberi dorongan dan inspirasi,–mengobarkan perasaan dan tindakan. Ya, motivasi seperti api, jika tidak terus diberi bahan bakar, nyalanya akan redup dan padam. Dan vibrant adalah bahan bakar yang ajaib. Di dalamnya terkandung nilai-nilai spiritual atau mental, yang mengusik bathin, memberi keyakinan, pandangan dan diwujudkan dalam perilaku-perilaku, tidakan-tindakan, dan praktek-praktek, sehingga kehidupan menuju perubahan lebih baik serta bertanggung jawab. Dan hidup menjadi lebih berwarna selayak pelangi yang indah,–perpaduan mentari dan rintik hujan. Bulan terus merangkak, perlahan ia menuju “tiada”, dan aku masih menunggu esok ia akan hadir menjadi “ada”, begitulah kehidupan,  seperti roda miring terseok-seok, tapi dengan keyakinan ia akan sampai tujuan. Dari Bali inspirasi terus mengalir seperti sungai menuju muara; seperti kayu kepada api dalam puisi Sapardi Djoko Damono: aku ingin mencintaimu dengan sederhana.   Akhirnya mari kita nyanyikan “aku ingin vibrant karena …..” (meditasi, 00.00, 10.10.06)

Categories: Poet

|Vibrant dan Rahasia Kekuatan Menyanyi|

03/10/2007 · Comments Off

Oleh: Budi Arianto | Penulis di Ujung SumateraBila kita  mengenang saat-saat mengikuti training vibrant, maupun sedang melakukan training dengan vibrant, hal yang jarang sekali ditinggalkan adalah menyanyi. Benarkah demikian? Saya pun tak pernah meninggalkan kesempatan untuk mengajak menyanyi bersama. Pernahkah mencoba mencungkil-cungkil atau mengkaji-kaji kenapa harus menyanyi. Pernahkah kita pertanyakan apa pentingnya menyanyi. Barangkali pernah, setidaknya nyanyi dijadikan sebagai bagian penyemangat atau menciptakan kegembiraan.Tapi tenyata, baru saya menyadari kekuatan di balik nyanyian. Menyanyi, sungguh merupakan aktivitas sederhana yang memiliki kekuatan yang besar, baik untuk diri sendiri maupun mereka yang mendengarkannya. Menyanyi akan mengantarkan aliran antusiasme  yang akan membangkitkan semangat hidup. Itu baru sekelumit yang saya tangkap dari ungkapan yang tulus dari salah seorang ibu ketika seminggu lalu saya memfasilitasi training intrepreneurship di kota meulaboh dengan 50 orang peserta. Seluruhnya perempuan. Memang saya selalu meminta setiap kelompok mulai sejak membentuk kelompok dengan nyanyian dan ketika akan mulai presentasi pun diawali dengan nyanyian yang mereka ciptakan sendiri. Dan hasilnya saat mereka presentasi begitu rileks dan bersemangat. Kata seorang ahli, sejak kecil manusia telah belajar menyanyi. Bahkan lebih jauh bahwa tangisan bayi sebagian besar merupakan nyanyiannya sendiri. Begitulah kekuatan nyanyian bayi, orang yang mendengar tangisan bayi waktu baru lahir selalu terharu dan mengucap syukur. Tangisan bayi tidak mengantarkan kesedihan. Tapi kegembiraan. Ingat, ketika masuk TK atau Play group, maka sebagian besar aktivitasnya adalah menyanyi. Demikian halnya dengan remaja, mereka dapat hanyut dan terbawa emosi serta ikut menyanyi bersama-sama dalam satu konser musik. Bahkan ada yang hingga melupakan keselamatanya, ingat konser Ungu, shela on 7, peter pant, Iwan Fals, dan group-group lainnya yang sudah sekian banyak membawa korban.Diusia dewasa pun tidak ketinggalan, dengan digelarnya acara-acara yang mengingatkan lagu-lagu nostalgia, semisal going country di Metro TV atau siaran tv lainya. Begitu pula di cafe-cafe atau restoran yang akan terasa hambar bila tak ada nyanyian. Di kantor-kantor atau di ruang tunggu, sajian nyanyian yang lembut ternyata dapat membunuh kejenuhan. Teringat pula bagaimana pengelola terminal maupun stasiun kereta api berpayah-payah menghadirkan group penyanyi untuk menghilangkan kesuntukan calon pemudik yang berjam-jam harus menunggu saat pemberangkatan.Bagi sebagian orang, menyanyi ternyata mampu menurunkan tekanan beban mental akibat bekerja keras seharian. Ingat bagaimana segerombolan angsa yang terbang bersama juga selalu mengeluarkan bunyi-bunyian. Lihatlah bagaimana saat tentara atau brimob, selalu bernyanyi saat berlari atau melakukan longmart. Bahkan saat akan diberangkatkan ke medan tempur. Nyanyian akan memberikan semangat dan menghilangkan kelelahan.Begitu besarnya pengaruh nyanyian bagi kehidupan manusia. Sampai-sampai Ohio University beberapa tahun lalu melalukan survey. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang setiap hari suka menyanyi dengan ketulusan, ternyata mampu “memperpanjang” usia dan terhindar dari penyakit-penyakit yang berhubungan dengan sistem pembuluh darah dan metabolisme.Sebuah artikel justru mengabarkan bahwa di sebuah rumah sakit di kawasan Cimahi, Bandung, salah satu alat terapi yang ampuh untuk menyembuhkan pasien-pasien mereka adalah dengan terapi menyanyi. Setiap hari pada jam tertentu, semua pasien masuk ke dalam ruang musik untuk mengekspresikan dirinya dengan menyanyi bersama. Alhasil, tingkat kegelisahan pasien dapat dikendalikan, serta hubungan sosial pun dapat ditingkatkan.Sayangnya banyak orang enggan menyanyi karena takut salah dinilai orang. Rasa malu dan rendah diri, terutama di depan orang banyak, ternyata memberi kontribusi terbesar yang membuat orang tidak mau menyanyi. Atau terkadang dalam sebuah pertemuan menyanyi sering pula dijadikan sebagai alat hukuman,sehingga orang enggan menyanyi karena ia dianggap menyanyi untuk menebus dosa.Menyanyi menjadi sesuatu yang sangat menguatkan bila menyanyi karena ungkapan dari dalam diri. Ketulusan. Dan inilah nyanyian yang melejitkan kecerdasan hati. Bahkan ketika mulut tidak mampu mengungkapkan kata-kata untuk menyanyi, bersiul dan bergumam pun sudah merupakan bagian dari nyanyian. Percayalah bahwa nyanyian yang sesungguhnya tidak didahului apakah kita bisa bernyanyi atau tidak. Menyanyi yang sesungguhnya tidak pula karena suara yang kita miliki adalah suara indah.nyanyian yang sesungguhnya adalah nyanyian hati yang diliputi rasa syukur dan sukacita yang didasari oleh ketulusan dan kerendahan hati.Seorang teman berkisah, bahwa ia selalu punya obtimisme, salah satunya karna ia selalu bekerja diiringin oleh nyanyian dan mau-tidak mau ia ikut bergumam dan sering pula ia akan menyanyi setiap berada di kamar mandi. Begitu mudahnya untuk menyanyi, tapi perlu perjuangan yang keras untuk mau bernyanyi, apalagi di depan orang banyak, semisal dalam training. Kalau begitu mari kita bernyanyi , selagi ada kesempatan.   Mari kita mulai hari yang penuh dengan tantangan dengan nyanyian.  Dan silahkan anda nyanyikan lagu dibawah ini. INGAT JANGAN BERHENTI nyanyikan saja SAMPAI ANDA dapat memastikan membaca INTRUKSI di penutup LAGU berikut.Teringat pada satu waktu. Kuberjalan-jalan di muka rumahmu. Rasa gelisah dalam hatimu. Ingin kuber temu. | Reff. Sekilas tampaklah engkau dibalik pintu. Tersenyum dikau menusuk hatiku. Apa daya sejak saat itu. Nurani terganggu di setiap waktu. Berdebar selalu dalam hatiku. Ingin kuber temu.Silahkan anda nyanyikan lagi lagu di atas dengan melakukan sedikit perubahan pada tek yang bergaris bawah dan berwarna merah gantilah dengan kata ANULagu ini saya coba gunakan dalam training dengan ibu-ibu dan ini sangat mengesankan. Selamat mencoba dan tangkap bagaimana respons dan imajinasi mereka. Saya tentu tidak bertanggung jawab atas imajinasi anda dan imajinasi peserta dan silahkan jadikan pula ini untuk mulai menjelaskan tentang persepsi dan sudut pandang yang berbeda terhadap ANU.

Categories: Poet

|IMMEMORIAL MERLYN|

03/09/2007 · Comments Off

Oleh: Budi Arianto | Penulis di Ujung Sumatera“Nias itu indah, bila kita rela ia indah“. Inilah sederetan kata yang dicoret oleh salah seorang peserta. Training of trainer the art facilitation di Nias. Mungkin sebagian orang tak menganggap ini deretan kata yang mengandung makna. Biasa saja. Tapi deretan kata ini justru menggelitik aku untuk mereka-reka makna dibaliknya. Aku tak pula mencoba menanyakan kepada penulis yang anonim itu. Aku biarkan dan kusimpan dalam deretan file di hati dan otakku. Tiba-tiba saja deretan kata ini yang pertama mencuat saat aku memulai refleksi perjalanan ke pulau Ono Niha, begitu sebutan khusus pulau milik para peloncat batu itu.  Pulau yang menyimpan para gadis yang cantik laksana “buah dalam daun”. Tak terlalu sulit mencapai pulau ini. Banyak pilihan untuk mencapainya. Kita bisa memilih pesawat Merpati, SMAQ atau Susi air. Cukup menyisihkan waktu satu jam perjalanan udara dari kota Medan. Atau bisa pula memilih menggunakan kapal air, ini agak sedikit panjang sekitar 10 jam jalur laut, tapi harus ditempuh melalui kota Sibolga. Bila ingin mempercepat dengan jalur laut bisa juga. Gunakan fery cepat sisihkan saja waktu 3 jam perjalanan menempuh ombak yang bergulung-gulung dan dijadikan sorganya kaum peselancar. Menginjakkan kaki di pulau ini, tentu kita sepakat ia menyimpan keindahan yang luar biasa. Tapi sayang banyak tangan jahil yang tak rela membiarkan keindahannya secara alami, dari udara terlihat jelas banyaknya hutan yang bopeng-bopeng. Nah deretan kata di atas adalah gambaran protes, kecewa, dan ajakan untuk mengingatkan indahnya pulau Nias. Seperti juga kita manusia Ia perlu dibelai, disentuh dengan kelembutan, penuh cinta menjaganya. Ya inilah pulau yang akan selalu mengingatkanku pada seorang gadis kelahiran 1984, tepatnya di daerah Alasa, yang berjarak 3 jam perjalanan dari Gunung Sitoli untuk mencapainya. Merlyn begitu teman-temannya, juga aku memanggilnya. Anak keenam dari enam bersaudara ini tak lebih dari 9 jam aku kenal, aku pahami dan belum pula terlalu jauh mengenalnya. Tapi telah meninggalkan begitu banyak kesan, tentang dirinya, harapannya, dan spiritnya. Ia telah pergi sebelum sempat mengucapkan kata berpisah, selain jabat tangan di akhir pertemuan di hari pertama dengan senyum termanisnya. Ia   meninggalkan aku, teman-temannya, orang tuanya dan seluruh saudaranya, tetangganya dan para penghuni pulau Ono Niha ini. *********Tak ada kata yang dapat kuucapkan selain linglung tiba-tiba menerpaku, saat di pagi buta Oni, yang bersamaku memfasilitasi pertemuan, mengetok kamarku dan dengan terbata-bata mengabarkan kepergianmu. Kepergianmu Merlyn. Seketika aku teringat Hpku, karna di hari pertemuan kita Merlyn, aku sempat sembunyi-sembunyi mengambil gambar seluruh peserta. Jantungku berdebar, aku menemukan fotomu terekam 3 jepretan di Hpku. Sungguh aku merasa bersukur sempat mengabadikanmu Merlyn. Padahal ini bukanlah kebiasaanku merekam peserta lewat kamera di Hpku. Ini kebetulan saja atau memang sudah ada kekuatan yang menggerakkanku. Ya, aku ingat, di pagi saat pertemuan Oni tiba-tiba meminta aku untuk merekam seluruh peserta. Padahal Ada Udin tim kami yang memang membawa kamera dan handycam yang memang tugas utamanya merekam seluruh proses. Dan entah mengapa pula Oni tak pula menggunakan Hpnya untuk merekam peserta. Ia memintaku Merlyn. Kaupun tersenyum Merlyn saat Udin menayangkan foto-foto adegan lucu saat di akhir pertemuan ia menayangkan perjalanan seharian saat training kita. Aku, Oni, Udin, Herman, dan Kasima, teman-teman yang kau tinggalkan kemudian sibuk membuka berbagai tumpukan kertas untuk melihat Potret dirimu saat berkenalan. Potret yang   kau lukis sendiri. Juga kami kemudian memeriksa kembali Isi Personal Mandala yang sempat kau buat hari itu. Kami kemudian mencoba membaca gambar, simbol, dan slogan yang kau coretkan.  Juga kutanyakan pada teman-teman sekelompokmu, ada Mawar, Ibu Ami, Kasima, dan Erna tentang apa saja yang sempat kau ceritakan saat menjelaskan isi personal mandalamu Merlyn. Inilah karya terakhir yang kau tinggalkan sebelum menutup mata selamanya meninggalkan dunia. Sungguh Merlyn, gambarmu penuh dengan pilihan warna yang suram dan gelap, tak seperti karya teman-temanmu yang bertaburan warna-warni. Aku membaca “keanehan” dari gambarmu Merlyn. Kau pun menulis Slogan, “Saya ingin Spt bintang yang menyinari Dunia”, tapi kenapa kau coret-coret, berusaha menghapus tulisan Dunia? Apakah ini sebagai “pertanda”? Anehnya pula Merlyn, kau menyimbulkan diri seperti matahari yang warnanya kuning gading yang sangat kabur. Pada pertanyaan apa yang ingin kamu capai, kaupun menggambar Jam yang jarumnya sama panjangnya mengarah pada angka 12 dan 3, dan itulah rentang waktu detik-detik saat kau terakhir menghembuskan nafasmu. Dalam personal mandala kaupun menuliskan sebuah kalimat disamping gambar sungai “aku ingin membantu manusia yang….” tak kau selesaikan kalimat itu Merlyn. Dan ada pula gambar mata yang kau buat, saat kutanya ke teman-temanmu, mereka mengatakan bahwa kau ingin melihat seluruh manusia, itu saja yang kau katakan. Makin penasaran menelisik gambar jalan yang lurus dan kaki yang hanya sebelah, sepertinya kau mengajak kami untuk menempuh perjalanan yang jauh dan lurus atau ini jalan yang sedang engkau lalui untuk mencapai-Nya. Dan kaupun menyelipkan gambar lilin yang nyaris padam……entahlah Merlyn begitu singkat pertemuan kita. Dan saat Oni bermain angka, kaupun mendapat bagian angka 6 dan angka ini pula tanggal kepergianmu meninggalkan kami. Angka 6 yang kau hubungkan sebagai anak ke enam dan pernah menjadi juara 6 bangga sekali saat kau mengatakan ini. Memang Merlyn, aku kagum padamu yang begitu tegar, penuh semangat sehingga kau tetap berjuang untuk mengikuti training–, kau tinggalkan murid-murid SD dimana kau abdikan sebagian hidupmu untuk mengatasi ketiadaan guru di kampungmu,– meski sesungguhnya kau sedang sakit. Ini baru kami ketahui, setelah kau tiada, karna  hari itu mesti pendiam tapi kelihatan ceria, dan menari-nari saat kelompokmu melakukan presentasi hasil diskusi dengan diawali oleh lagu dan yel-yel kelompok. Kenangan ini tentu takkan pernah kulupakan Merlyn dan seperti sms Mbak Budsi padaku saat aku mengabarkan tentang kepergianmu, begini bunyinya  ”kalau melihat langit nanti malam, pasti ada bintang baru yang menyinari…..” dan itulah engkau Merlyn. Engkau telah menjadi bintang, dan dapat melihat seluruh manusia, seperti yang kau impikan. Selamat jalan, sahabat, Tuhan akan menyambutmu penuh kasih, sebagaimana engkau mengasihi kami, temuilah Ia dengan senyummu seperti engkau memberikan senyummu padaku dan teman-temanmu, temuilah Ia dengan kehangatan, seperti engkau memberi kehangatan kepadaku dan teman-temanmu yang kau tinggalkan. Dan inilah puisi yang ditulis Oni untukmu: Untukmu Sahabat!Putri Ono NihaTak kenal dimana bumi dipijak…Kau ingin seperti Bintang…Kau tunjukan kesabaran dan keteguhan dengan senyum hadapisaat-saat sulit…Gambar Jam mu,  tanda singkatnya waktu…Kau pilih angka 6 sebagai kenangan…Sahabatku, …Kau tinggalkan cahaya laksana Mataharimu…Segarkan jiwa laksana Sungaimu…Mata dan Kakimu memberi arah pada jalan…Kaulah jelamaan Lilin…
Selamat Jalan Kawan….!!!
Gunung Sitoli, 6 ferbruari’ 07 Hari Penuh duka saat training, 6 februari 2007, Sahabatmu,

Categories: Poet

|Catatan II: Sepatu Di Atas Meja|

03/08/2007 · Comments Off


Oleh: Budi Arianto | Penulis

Hari ini Sabtu, gerimis baru saja menghentikan rintiknya di pagi hari. Jam telah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Beberapa mahasiswaku telah berada dalam ruang kuliah sumbangan dari pemerintah Jepang melalui WALUBI. Aku segera meminta mereka membuka sepatu dan meletakkan di luar ruang, tepatnya di depan pintu masuk. Awalnya mereka ragu. Karna ini tak lazim mereka lakukan,–seperti kalau mau masuk ke masjid. Tapi aku memintanya —barangkali karna Dosen,–mereka menurut juga hehehe. Mahasiwa yang menyusul masuk pun langsung aku minta membuka sepatu. Wajah-wajah penuh tanya aku nikmati pagi ini. Aku biarkan saja.

Saat aku pastikan semua mahasiswa telah hadir dan mendengar satu lagu di awal kuliah, aku meminta mereka untuk masing-masing mengambil sepatu sebelah kiri.Hanya sebelah dan tidak boleh mengambil sepatu sendiri lalu membawanya ke dalam kelas. Keriuhanpun segera terjadi. Saat menenteng sepatu, kebetulan ada yang dapat “sial”, mendapat sepatu yang sangat bau, –barangkali sudah lama tidak dicuci atau memang pemiliknya kakinya bau, sehingga masuk kekelas dengan menutup hidungnya dan mual-mual. Gerrr pun terus terjadi. Sang pemilik pun langsung kelihatan memerah wajahnya, ketahuan deh. Apa boleh buat, mereka tetap melakukan.

Setelah itu, aku meminta mereka mencari siapa pemilik sepatu yang mereka
ambil tanpa boleh bertanya, —-ternyata mesti telah 2,5 tahun mereka bersama, masing-masing kurang mengenali sepatu teman-temannya sehingga bersalahan, akhirnya dengan bahasa isyarat mereka saling menemukan pemiliknya. Kecuali salah seorang yang tidak mendapatkan sepatunya. Tentu saja dengan wajah kebingungan dia coba mencarinya. Dan seorang yang lain tetap menenteng sepatu tapi tak ada yang mau mengakui sebagai pemiliknya. Setelah beberapa menit akhirnya aku buka “rahasia” bahwa aku telah menyembunyikan salah satu sepatu dan memasukkan sepatu lain yang sengaja kubawa dari rumah.
Pertanyaan pun segera aku lemparkan, apa pengalaman yang mereka dapatkan dan apa yang anda ingat dengan peristiwa pagi ini. Jawabannya beragam. Umumnya kemudian mereka mengingat kisah Cinderela. Tepat, seperti yang aku duga. Setelah itu aku meminta mereka membentuk kelompok dan langsung menyusun naskah drama tentang Cinderela. Aku beri waktu 30 menit, dan mereka akan mempresentasikan dengan mementaskan naskah tersebut paling lama 15 menit. Meskipun sedikit agak molor akhirnya merekapun berhasil mementaskan naskah Cinderela versi masing-masing. Begitulah pengantar awal mata kuliah Menulis dan Memahami Naskah Drama.

Sambil menjelaskan untuk memperkuat bagaimana menulis dan memahami naskah drama, aku mengaitkan dengan perbedaan drama tradisional yang tidak menggunakan naskah dan drama modern (teater) yang mutlak menjadi
cirinya, bahwa dialog telah tertuang dari naskah. Aku tiba-tiba membuka sepatu,–yang kebetulan agak kotor karna tanah becek lengket di sepatuku. Lalu aku letakkan sepatu sebelah kiri di atas meja. Aku lihat reaksi di wajah mahasiswaku agak kaget dan bengong. Terus aku meminta mereka untuk memberi apresiasi terhadap sepatu di atas meja. Sama seperti cerita di atas, Andapun boleh ikut mengapresiasinya. Cukup anda bayangkan peristiwanya, dan simpan dalam pikiran dan benak Anda apresiasinya.

Mahasiswaku kemudian menuliskan apresiasi mereka, sangat banyak dan beragam sudut pandang yang mereka gunakan. Ada yang tiba-tiba saat bercerita menangis karna pernah jadi korban salah tangkap, disiksa dan diinjak-injak dengan sepatu lars,–ini yang sangat membuat kelas jadi haru. banyak yang mengaitkan peristiwa ini pada saat konflik, sepatu simbol dari kekuasaan dan kekerasan yang semena-mena menghajar orang yang tidak bersalah. Ada yang membayangkan sepatu sebagai pot bunga. ada yang justru membuat dialog antara sepatu, laptop buku dan spidol dan tas ransel yang aku letakkan di atas meja. Cukup menarik dan hidup. Ada pula yang menceritakan ini perbuatan yang tidak sepatutnya karna sepatu semestinya itu dibawah bukan di atas meja (ini kemudian memancing diskusi tentang teks dan konteks, karna kalau di toko sepatu malah sepatu terletak di atas kepala). Ada pula yang menganggap bahwa ini adalah perbuatan dosen yang kurang ajar. Hahahahaha. Mereka bebas mengapresiasi dan merdeka seperti juga Anda.

Akhirnya, aku menutup kuliah dengan sedikit menjelaskan bahwa peristiwa yang baru saja berlalu itu adalah bagian “drama” yang aku golongkan dalam periode Postmodernisme. Lalu sedikit tambahan cerita tentang apa itu posmodernisme dan bagaimana bila dikaitkan dengan drama. Bukankah peristiwa tadi tanpa sutradara, karna sutradara telah mati. Bukankah peristiwa tadi tanpa pentas dan ligthing yang disiapkan. Bukankah peristiwa tadi mengingkari seluruh dramaturgi atau aturan dalam hukum drama. Bukankah peristiwa tadi mengangkangi seluruh aturan kaku bermain drama. Bukankah peristiwa tadi telah mengembalikan kepada anda sebagai manusia, sebagai aktor sekaligus sutradara, yang seutuhnya, yang bebas, yang merdeka menentukan sudut pandang, menentukan alur cerita dan melibatkan seluruh pendengar juga menjadi pemain sekaligus. Bukankah peristiwa tadi telah mengajak anda leluasa berimajinasi dan tak ada yang berhak memmenjarakan imajinasi anda. Ya imajinasi sepatu di atas meja. Imajinasi memang lebih penting dari kecerdasan. Silahkan Anda memetik pelajaran dari peristiwa-peistiwa ini.-selesai-

Categories: Poet

|Catatan I: Tentang X|

03/08/2007 · Comments Off

Oleh: Budi Arianto | Penulis
Hari ini kamis. Aku memasuki ruang 13.01.009. Jam telah menunjukkan pukul 12.05. Suasana agak terik memang. Berisik suara buku yang menampar-nampar angin terdengar di sana sini. Di luar aku masih sayup sayup mendengar canda tawa mahasiswaku. Saling berebut agar didengar. Riuh rendah. Seketika ruang kelas menjadi senyap. Tanpa bicara apapun aku mulai mengeluarkan laptop, dan tentu alat-alat “mengajar” beragam sepidol. Alat mengajar memang selalu aku bawa sendiri. Di kampus ini papan tulis masih berwarna hitam. Tentu pula selalu berpasangan dengan kapur tulis. Ah, aku benci kapur yang sering membuatku batuk. Tapi ini mungkin alasanku saja. Sebab aku penggemar berat rokok. Beruntung, di salah satu sudut ruangan aku temukan white board (WB) kecil. Aku tentu lebih memilih menggunakan alat ini. Lebih nyaman rasanya.

Setelah persiapan, aku mulai aksi. Menuliskan huruf X di WB. Cukup besar agar bisa terbaca sampai belakang, begitu maksud hatiku. Kejengkelanku yang lain ruang kuliah ini tak bisa diutak atik lagi. Soalnya seluruh bangkunya tersambung. Yah sudahlah aku menjadi bersendiri di depan kelas. Aku biarkan mahasiswaku membisu. Memang mereka sudah terbiasa aku beri kejutan. Bahkan mungkin menungguku memberi kejutan baru setiap aku masuk ruang kuliah. Ada saja memang “tingkah” yang kubuat. Terkadang sambil jalan menuju kelas aku baca puisi keras-keras. Nggak peduli pada siapapun. Toh paling-paling orang cuma menatap atau sedikit melirik dengan keheranan. Begitu pula saat kutinggalkan kelas sesekali tanpa kata salam penutup atau pamit basa-basi, tapi dengan baca puisi langsung ngeloyor ke tempat parkir roda dua yang berjarak sekitar 100 m dari ruang kuliah. Tentu saja Anda juga boleh mengapresiasi secara bebas, membayangkan, dan kira-kira anda akan memberi respons tertentu, cukup dipikiran anda dan simpan dalam hati. Seperti orang-orang di sekitar saat aku lakukan ini.

Oke, kembali tentang X aku kemudian melempar pertanyaan. Anda boleh juga ikut menjawabnya. Sederhana saja, aku cuma bertanya apa yang anda bayangkan dengan huruf X di depan dan silahkan hubungkan dengan apapun minimal 5 hal yang ada di benak anda. Aku beri waktu 10 menit untuk mahasiswaku menuliskan. Biar lebih santai aku pun memutar instrument lembutnya Vanesa Mae. Tepat pada waktunya aku meminta mereka membacakan. Hasilnya sungguh mengagumkan, beragam dan ternyata hanya dengan huruf X mampu menimbulkan berbagai makna dan hubungan, dari iklan rokok, tanda kematian, racun bahaya, mr X, sinar X, B3, dan banyak lagi. Tak berhenti di situ, aku kemudian meminta mereka memilih salah satu dari makna X itu dijadikan puisi. Luar biasa ternyata X mampu memancing imajinasi mereka menulis puisi tentang X. Tentu aku yang kemudian memanen 32 buah puisi tentang X.

Sesungguhnya, hari itu aku lagi kepingin saja membuktikan kekuatan otak kanan, dengan memberi “rangsangan” X, dan ini menjadi pembuka kuliah tentang proses kreatif penyair. Dan aku ingin membuktikan bahwa imajinasi itu bisa dibangun, dan bisa “dipanggil”. Jadi bila mau berkarya nggak harus susah-susah menunggu wangsit, mote, ilham, dan alasan lainnya. Cukup, “memetik jari” maka otak kita yang ajaib akan bekerja membuka memori yang telah terekam dalam file-file di otak. Sesederhana itu. Jadi mesti banyak penyair yang menuliskan berbagai proses kreatif yang seakan-akan begitu berat dan rumit berhalaman-halaman, ternyata menjadi sangat mudah bukan?.

Wajah mahasiswaku hari itu menjadi cukup ceria, paling tidak mereka mengalami langsung proses kreatif dirinya menulis puisi. Tanpa harus membaca berbab-bab dan mendengar berjam-jam ceramah. Cukup dengan kekuatan X. Dan kuliah pun aku tutup dengan meminta mereka membacakan puisi masing-masing secara bersama-sama dengan suara yang keras dan lantang. Bisa dibayangkan ruang kuliah jadi seperti keriuhan pasar. Diam-diam aku ngeloyor pergi…….biarlah transaksi dan interaksi berikutnya menjadi milik mereka untuk membahas mata kuliah Puisi yang sedang mereka pelajari dan aku Cuma mengajak mereka bermain-main menemukan sendiri?.-selesai-

Categories: Poet