Hutan dan Lingkungan Aceh

Entries from March 2007

|“Sirine Donat” dan Bisnis Bencana Pasca Tsunami NAD|

03/31/2007 · 1 Comment

Oleh: Hidayat | Anggota MPBI (Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia) menetap di Banda Aceh

ADAKAH masyarakat yang tahu berapa harga “sirine donat” yang ada di depan Kantor Gubernur NAD? Mungkin tidak semua orang mengetahuai berapa harganya. Tampaknya lembaga BMG (Badan Meterologi dan Geofisika) kurang transparan untuk bisnis peralatan bencana karena tidak ada satupun media massa yang mengetahuinya. Dan apa yang diketahui oleh masyarakat pada umumnya yakni tiba-tiba sudah ada sirine terpasang dan yang lain tidak tahu sama sekali.

Setelah menghimpun beberapa sumber informasi dari berbagai sumber, maka diketahui harga sebuah sirine donat tersebut berkisar 10.000 dollar Amerika (setara dengan 100 juta rupiah).

Semahal itukah harga sebuah sirine, mengapa tidak kita beli saja sirine semacam sirine untuk mesjid yang umumnya bermerk “toa” lebih murah tidak sampai 1 juta rupiah satunya. Itu artinya kita dapat memiliki lebih banyak sirine yang dapat dimiliki setiap desa di NAD untuk system peringatan dini.

Tapi untuk apa sirine semahal itu dibeli jika bukan untuk system peringatan dini Tsunami di Banda Aceh dimana system peringatan dini didefinisikan sebagai upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa kemungkinan bencana akan segera terjadi, yang menjangkau masyarakat, segera, tegas tidak membingungkan, dan resmi (draft RUU Penanggulangan Bencana,-26 Des 2006-versi MPBI).

(more…)

Categories: Guest

|Jika Sang Imam Menjadi Perambah Hutan|

03/24/2007 · Comments Off

Oleh : Dewa Gumay   

Ada kejadian yang menarik di Pengadilan Negeri Banda Aceh pada tanggal 21 Maret 2007 lalu, Bupati yang baru saja terpilih pada Pilkada lalu dan seorang Direktur perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Simeulue harus menghadapi jeratan hukum karena telah melakukan perambahan hutan seluas 12.600 hektar, yang menarik dari kasus ini adalah pertama, pelaku perambahan hutan tersebut adalah sang imam-pemimpin yang menjadi panutan masyarakat banyak dan kedua, kasus perambahan hutan ini seharusnya disidangkan di pengadilan negeri Sinabang ternyata dipindahkan ke Pengadilan Negeri Banda Aceh, dengan pertimbangan yang kurang rasional sekaligus menghilangkan akses masyarakat Simeulue untuk memantau proses peradilan yang berlangsung. 

Sang Imam Menerobos Cara Illegal 

Jamak dipahami oleh kita bersama, bahwa Imam adalah sang pemimpin, panutan, teladan, dan contoh figur yang baik. Apa jadinya jika sang Imam memberikan contoh yang salah kepada umatnya ? maka jangan heran jika masyarakat secara terang-terangan melakukan praktek perambahan hutan atau illegal logging karena pemimpinnya memberi contoh demikian.  

(more…)

Categories: Dewa Gumay :::

|Kunjungan Jurnalis|

03/17/2007 · Comments Off

Oleh: Budi Arianto | Penulis Ujung SumateraHari ini, seorang pegiat media “berkunjung” tak sengaja ke ruang tempat aku sedang belajar bersama tentang CO dengan teman-teman Transparansi International. Tepatnya para pengurus komite masyarakat sadar anggaran, — begitu layaknya yang kami sebut para peserta. Karena mereka adalah orang -orang yang terseleksi dan masih memiliki komidmen yang kuat untuk peduli terhadap berbagai penyelewengan yang terjadi dalam proses pembangunan. Kumpulan orang-orang “langka” inilah yang sedang berolah pikir, bertukar makna tetang sebuah pengorganisasian rakyat. Dan itulah yang disaksikan seorang jurnalis di ruangan ini.Seperti tak percaya pada pandangannya, sang jurnalis ini, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan belajar. Ruangan yang telah dipenuhi oleh berbagai kreatifitas dalam bentuk grafity, symbol, gambar, tentang berbagai tema. Tak hanya di dinding-dinding yang bertaburan ide, gagasan yang tertuang lewat gambar. Bahkan di plafon ruangan pun bergelantungan kliping koran dan majalah yang telah membentuk alur cerita tentang proses pengorganisasian. Baik mulai dari identivikasi masalah, klasifikasi hingga bagaimana gambaran upaya pemecahannya serta apa yang dikerjakan organizer, –seperti yang mereka mimpikan mencapai kondisi ideal perubahan. Tak hanya itu, di sudut-sudut meja juga terpampang sekolah, jembatan kecil hingga jembatan besar yang dirangkai dari sedotan plastik, yang berdesak-desakan dengan boneka-boneka kesayanganku.Tak kusangka, sang jurnalis ini, kemudian justru membuang waktunya untuk “menonton” seharian pelatihan ini. Sesekali ia ikut mengayunkan kakinya saat peserta sedang bernyanyi tentang “perahu Tenggelam” sebagai media mereka untuk membentuk kelompok. Aku menyebutnya peristiwa Titanic. Ini Tetanic imajinatif, kenapa? Soalnya mana ada titanic yang didayung hahahha. Mau tahu bagaimana cara memainkannya, sederhana kok. Pertama mintalah seluruh peserta membentuk kapal (jangan lupa awali dulu dengan lagu, aku lupa judulnya, lagu yang mengiringi film titanic itu lho). Setelah itu matikan lagu. Dan tawarkan ke mereka lagu tentang perahu, ditambah gerakannya mulai dari mendayung, kena ombak, hingga perahu bergoyang. Nah pada akhir lagu tinggal menyebut perahu tenggelam, sekoci hanya muat untuk, misal; 5 orang, ulangi beberapa kali sampai kelompok terbentuk sesuai dengan jumlah peserta.Pada saat istirahat, lelaki muda yang sebagian kepalanya tidak ditumbuhi rambut ini, mulai beraksi. Ia mengamati seluruh gambar-gambar dan menanyakan kepadaku bagaimana mereka menghasilkan itu dan makna dibalik gambar gambar itu. Ia terbengong dan berkomentar, “bagus sekali, mestinya training jurnalistik yang baru kami lakukan dibuat seperti ini, kelihatan lebih asik dan tidak membosankan, ” katanya memuji. “Mudah-mudahan nanti kalau kami buat training akan kuminta Anda membantu kami,” tambahnya. Tentu aku hanya senyum sebagaimana biasanya. Setelah istirahat saat sessi siang ia pun terus mengikutinya, tentu saja ini menambah semangatku untuk terus berproses lebih baik lagi.

Categories: Poet

|Bali: Inspirasi Titik Nol|

03/14/2007 · Comments Off

Oleh: Budi Arianto | Penulis Ujung SumateraMalam ini, bulan tak lagi utuh, menandakan ramadhan telah melewati setengah jalan. Sunyi dikampungku, tak membuat sepi suasana hati. Ada gelisah menyembul diam-diam. Aku mengenang Bali, menatap bulan dan bau dupa. Mengalirkan energi bathin, meraba imajinasi. Sebentar aku terkapar, memandang bulan menerawang kenangan. Di Bali aku mengosongkan diri, memotret diri, meraih cinta. Kembali ke titik nol: Siapa sesungguhnya dan sebenarnya aku? Dari titik nol, aku mengacak-acak makna inspirasi dan motivasi yang menggebu. Inspirasi mengubah pikiran, memendam keangkuhan. Begitulah dalam mengelola pertemuan. Diawali menjadikan semua “tiada”, –membebaskan setiap orang dari kungkungan jabatan,pangkat dan kehormatan. Setiap orang beranjak dari titik yang sama Nol. Start yang sama bisa bernilai beda: tergantung olah pikir, kemauan dan kemampuan dalam memperlakukannya sehingga menjadi “ada”. Menjadi “ada” itulah motivasi, semangat dan upaya mengubah tindakan. Ia tak akan tumbuh dan berkembang dari dorongan luar. Tapi ia tumbuh dari diri sendiri,– dunia dalam (inner life) manusia. Karena  itu, sulit memotivasi orang karena ia hanya lahir dari keinginannya sendiri untuk berubah. Itulah yang diperankan Dani dan Budsi, ia telah “mengilhami”, memberi inspirasi –membuat kita menjadi nol, tapi menerangi jalan seperti bulan dan kita meraih motivasi, menata road map sendiri untuk melangkah, mengais mimpi, meraih cita, mencapai tujuan. Aku mulai meraba bahwa motivasi berarti memberi dorongan dan inspirasi,–mengobarkan perasaan dan tindakan. Ya, motivasi seperti api, jika tidak terus diberi bahan bakar, nyalanya akan redup dan padam. Dan vibrant adalah bahan bakar yang ajaib. Di dalamnya terkandung nilai-nilai spiritual atau mental, yang mengusik bathin, memberi keyakinan, pandangan dan diwujudkan dalam perilaku-perilaku, tidakan-tindakan, dan praktek-praktek, sehingga kehidupan menuju perubahan lebih baik serta bertanggung jawab. Dan hidup menjadi lebih berwarna selayak pelangi yang indah,–perpaduan mentari dan rintik hujan. Bulan terus merangkak, perlahan ia menuju “tiada”, dan aku masih menunggu esok ia akan hadir menjadi “ada”, begitulah kehidupan,  seperti roda miring terseok-seok, tapi dengan keyakinan ia akan sampai tujuan. Dari Bali inspirasi terus mengalir seperti sungai menuju muara; seperti kayu kepada api dalam puisi Sapardi Djoko Damono: aku ingin mencintaimu dengan sederhana.   Akhirnya mari kita nyanyikan “aku ingin vibrant karena …..” (meditasi, 00.00, 10.10.06)

Categories: Poet

|Vibrant dan Rahasia Kekuatan Menyanyi|

03/10/2007 · Comments Off

Oleh: Budi Arianto | Penulis di Ujung SumateraBila kita  mengenang saat-saat mengikuti training vibrant, maupun sedang melakukan training dengan vibrant, hal yang jarang sekali ditinggalkan adalah menyanyi. Benarkah demikian? Saya pun tak pernah meninggalkan kesempatan untuk mengajak menyanyi bersama. Pernahkah mencoba mencungkil-cungkil atau mengkaji-kaji kenapa harus menyanyi. Pernahkah kita pertanyakan apa pentingnya menyanyi. Barangkali pernah, setidaknya nyanyi dijadikan sebagai bagian penyemangat atau menciptakan kegembiraan.Tapi tenyata, baru saya menyadari kekuatan di balik nyanyian. Menyanyi, sungguh merupakan aktivitas sederhana yang memiliki kekuatan yang besar, baik untuk diri sendiri maupun mereka yang mendengarkannya. Menyanyi akan mengantarkan aliran antusiasme  yang akan membangkitkan semangat hidup. Itu baru sekelumit yang saya tangkap dari ungkapan yang tulus dari salah seorang ibu ketika seminggu lalu saya memfasilitasi training intrepreneurship di kota meulaboh dengan 50 orang peserta. Seluruhnya perempuan. Memang saya selalu meminta setiap kelompok mulai sejak membentuk kelompok dengan nyanyian dan ketika akan mulai presentasi pun diawali dengan nyanyian yang mereka ciptakan sendiri. Dan hasilnya saat mereka presentasi begitu rileks dan bersemangat. Kata seorang ahli, sejak kecil manusia telah belajar menyanyi. Bahkan lebih jauh bahwa tangisan bayi sebagian besar merupakan nyanyiannya sendiri. Begitulah kekuatan nyanyian bayi, orang yang mendengar tangisan bayi waktu baru lahir selalu terharu dan mengucap syukur. Tangisan bayi tidak mengantarkan kesedihan. Tapi kegembiraan. Ingat, ketika masuk TK atau Play group, maka sebagian besar aktivitasnya adalah menyanyi. Demikian halnya dengan remaja, mereka dapat hanyut dan terbawa emosi serta ikut menyanyi bersama-sama dalam satu konser musik. Bahkan ada yang hingga melupakan keselamatanya, ingat konser Ungu, shela on 7, peter pant, Iwan Fals, dan group-group lainnya yang sudah sekian banyak membawa korban.Diusia dewasa pun tidak ketinggalan, dengan digelarnya acara-acara yang mengingatkan lagu-lagu nostalgia, semisal going country di Metro TV atau siaran tv lainya. Begitu pula di cafe-cafe atau restoran yang akan terasa hambar bila tak ada nyanyian. Di kantor-kantor atau di ruang tunggu, sajian nyanyian yang lembut ternyata dapat membunuh kejenuhan. Teringat pula bagaimana pengelola terminal maupun stasiun kereta api berpayah-payah menghadirkan group penyanyi untuk menghilangkan kesuntukan calon pemudik yang berjam-jam harus menunggu saat pemberangkatan.Bagi sebagian orang, menyanyi ternyata mampu menurunkan tekanan beban mental akibat bekerja keras seharian. Ingat bagaimana segerombolan angsa yang terbang bersama juga selalu mengeluarkan bunyi-bunyian. Lihatlah bagaimana saat tentara atau brimob, selalu bernyanyi saat berlari atau melakukan longmart. Bahkan saat akan diberangkatkan ke medan tempur. Nyanyian akan memberikan semangat dan menghilangkan kelelahan.Begitu besarnya pengaruh nyanyian bagi kehidupan manusia. Sampai-sampai Ohio University beberapa tahun lalu melalukan survey. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang setiap hari suka menyanyi dengan ketulusan, ternyata mampu “memperpanjang” usia dan terhindar dari penyakit-penyakit yang berhubungan dengan sistem pembuluh darah dan metabolisme.Sebuah artikel justru mengabarkan bahwa di sebuah rumah sakit di kawasan Cimahi, Bandung, salah satu alat terapi yang ampuh untuk menyembuhkan pasien-pasien mereka adalah dengan terapi menyanyi. Setiap hari pada jam tertentu, semua pasien masuk ke dalam ruang musik untuk mengekspresikan dirinya dengan menyanyi bersama. Alhasil, tingkat kegelisahan pasien dapat dikendalikan, serta hubungan sosial pun dapat ditingkatkan.Sayangnya banyak orang enggan menyanyi karena takut salah dinilai orang. Rasa malu dan rendah diri, terutama di depan orang banyak, ternyata memberi kontribusi terbesar yang membuat orang tidak mau menyanyi. Atau terkadang dalam sebuah pertemuan menyanyi sering pula dijadikan sebagai alat hukuman,sehingga orang enggan menyanyi karena ia dianggap menyanyi untuk menebus dosa.Menyanyi menjadi sesuatu yang sangat menguatkan bila menyanyi karena ungkapan dari dalam diri. Ketulusan. Dan inilah nyanyian yang melejitkan kecerdasan hati. Bahkan ketika mulut tidak mampu mengungkapkan kata-kata untuk menyanyi, bersiul dan bergumam pun sudah merupakan bagian dari nyanyian. Percayalah bahwa nyanyian yang sesungguhnya tidak didahului apakah kita bisa bernyanyi atau tidak. Menyanyi yang sesungguhnya tidak pula karena suara yang kita miliki adalah suara indah.nyanyian yang sesungguhnya adalah nyanyian hati yang diliputi rasa syukur dan sukacita yang didasari oleh ketulusan dan kerendahan hati.Seorang teman berkisah, bahwa ia selalu punya obtimisme, salah satunya karna ia selalu bekerja diiringin oleh nyanyian dan mau-tidak mau ia ikut bergumam dan sering pula ia akan menyanyi setiap berada di kamar mandi. Begitu mudahnya untuk menyanyi, tapi perlu perjuangan yang keras untuk mau bernyanyi, apalagi di depan orang banyak, semisal dalam training. Kalau begitu mari kita bernyanyi , selagi ada kesempatan.   Mari kita mulai hari yang penuh dengan tantangan dengan nyanyian.  Dan silahkan anda nyanyikan lagu dibawah ini. INGAT JANGAN BERHENTI nyanyikan saja SAMPAI ANDA dapat memastikan membaca INTRUKSI di penutup LAGU berikut.Teringat pada satu waktu. Kuberjalan-jalan di muka rumahmu. Rasa gelisah dalam hatimu. Ingin kuber temu. | Reff. Sekilas tampaklah engkau dibalik pintu. Tersenyum dikau menusuk hatiku. Apa daya sejak saat itu. Nurani terganggu di setiap waktu. Berdebar selalu dalam hatiku. Ingin kuber temu.Silahkan anda nyanyikan lagi lagu di atas dengan melakukan sedikit perubahan pada tek yang bergaris bawah dan berwarna merah gantilah dengan kata ANULagu ini saya coba gunakan dalam training dengan ibu-ibu dan ini sangat mengesankan. Selamat mencoba dan tangkap bagaimana respons dan imajinasi mereka. Saya tentu tidak bertanggung jawab atas imajinasi anda dan imajinasi peserta dan silahkan jadikan pula ini untuk mulai menjelaskan tentang persepsi dan sudut pandang yang berbeda terhadap ANU.

Categories: Poet

|Sebulan Pimpin Aceh: Irwandi Melapor ke SBY|

03/10/2007 · Comments Off

 

Serambi Indonesia | 9 Maret 2007 

JAKARTA – Gubernur bersama Wakil Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar, Kamis (8/3) melaporkan satu bulan pelaksanaan pemerintahan di Aceh kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Jakarta. 

Saat menerima pemimpin Aceh itu, Presiden SBY didampingi Wakil Presiden M Jusuf Kalla, Menko Polhukam Widodo AS, dan Menko Kesra Aburizal Bakrie. Pertemuan tersebut adalah yang pertama sejak Irwandi-Nazar dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur Aceh.

Pasangan Irwandi-Nazar terpilih sebagai pemimpin Aceh secara meyakinkan pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) 11 Desember silam. Keduanya dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur pada 8 Februari 2007 oleh Menteri Dalam Negeri Mohd Ma‘ruf.

“Hari ini persis satu bulan saya dilantik oleh Mendagri, dan melaporkan kepada Presiden sebulan pelaksanaan pemerintahan di Aceh,” ujar Irwandi dalam jumpa pers yang diantarkan Mendagri Mohd Ma‘ruf dan didampingi Wagub Muhammad Nazar.

Irwandi menyatakan, dalam kurun waktu ’seumur kangkung‘ jalannya pemerintahan di Aceh, dirinya telah melaksanakan beberapa hal antara lain konsolidasi dan pembinaan aparatur menyangkut disiplin dan kinerja aparatur, serta mempersipkan pelayanan satu pintu. “Ini dalam rangka memantapkan pelayanan masyarakat dan menangkal kemungkinan KKN,” sebut Irwandi yang mengenakan setelan jas warna gelap.

Kepada Presiden juga disampaikan, dirinya sudah melantik tujuh kepala daerah yang terpilih dalam Pilkada silam. Dalam waktu dekat akan melantik lagi 10 kepala daerah yang lain yang juga hasil Pilkadasung 11 Desember 2006.

Bidang pembangunan ekonomi, Irwandi menyampaikan konsep ’pengembangan ekonomi kaum dhuafa‘ yang hasilnya akan dapat dilihat empat- lima bulan ke depan. “Saya juga melaporkan pembangunan jalan Meulaboh-Banda Aceh, pemanjangan run way Bandara Sultan Iskandar Muda dari 2.500 meter menjadi 3.000 meter,” sebut Irwandi.

Menyinggung tentang iklim investasi di Aceh, Irwandi mengatakan saat ini sudah banyak investor yang berminat ke Aceh, antara lain dari Malaysia, Singapura, Jerman, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Turki. Investasi yang diincar adalah bidang bijih besi, pelabuhan, batu bara, pengolahan beras dan hasil pertanian lainnya, penerbangan dan lain-lain.

Moratorium logging

Program lain yang akan dijalankan pemerintahan Aceh yang baru, menurut Irwandi adalah menyelamatkan hutan Aceh. Irwandi menegaskan, pihaknya dalam waktu dekat akan mengumumkan moratorium logging di Aceh. “Jangankan illegal logging, yang legal logging pun harus dihentikan di Aceh,” tukas Irwandi. Menurutnya, dampak penebangan hutan di Aceh cukup luas seperti yang terjadi di Aceh Tamiang pada peristiwa banjir awal Desember lalu.

Menyinggung tentang penyelamatan eksosistem Leuser, Irwandi mengatakan pihaknya sudah membentuk sebuah badan pengelola (Bapel) yang dikukuhkan melalui SK Gubernur.

Pilkada Agara

Menjawab pertanyaan tentang Pilkada Aceh Tenggara (Agara), Mendagri Mohd Ma‘ruf mengatakan sudah memberi petunjuk kepada gubernur untuk memfasilitasi agar KIP melanjutkan proses tahapan Pilkada. “Tadi sudah dilaporkan kepada kami, bahwa sudah ketemu dengan pihak-pihak terkait. Harapan kita dalam waktu dekat, perhitungan perolehan suara di Aceh Tenggara bisa segera diselesaikan,” ujar Ma‘ruf.(fik) 

Categories: Berita Koran

|Catatan Penutup Tahun Aceh|

03/09/2007 · Comments Off

 

Oleh: Dewa Gumay | Penggiat Lingkungan 

 

S

epanjang tahun 2005 dan 2006, setelah bencana gempa dan tsunami tercatat berbagai keambiguan yang dilakukan oleh pemerintah dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, keambiguan ini bahkan cenderung menjadi self-driver oleh BRR Aceh-Nias dalam menentukan kebijakan pembangunan melalui otoritas “Politik Anggaran” yang dipunyai BRR, sehingga Pemerintah Provinsi cenderung didikte oleh kebijakan BRR. 

Kecelakaan dalam penggunaan Anggaran untuk membiayai project rekonstruksi, berimplikasi terhadap keberlangsungan ekologi atau lingkungan, pembangunan markas satuan Brimob di seulawah (kawasan Taman Hutan Raya), pembukaan jalan jantho – keumala (Kawasan Cagar Alam), merupakan contoh ketidak jelasan BRR Aceh-Nias dalam menentukan project yang patut didanai. 

Maraknya penggunaan kayu illegal di Banda Aceh (Operasi Tim terpadu Illegal logging provinsi NAD, 26/11/06), juga memperlihatkan bahwa dua tahun proses rekonstruksi masih diwarnai penggunaan kayu illegal, bahkan aksi penggunaan kayu illegal ini juga dilakukan oleh NGO International yang tertangkap pada 30/05/06 di pelabuhan Ule Lheu Banda Aceh. 

Sampai dengan tahun 2006 ini, Lembaga yang dipimpin Kuntoro Mangkusubroto ini masih belum mempunyai Visi dan Strategi yang efektif dalam memperhatikan dampak rekonstruksi terhadap lingkungan.  Jika persoalan ini tidak segera diantisipasi oleh BRR dan Pemerintah Provinsi di Tahun 2007, maka masyarakat akan kembali dirugikan akibat dampak project rekonstruksi yang mengundang “Bencana Ekologis”. 

eskalasi kasus Illegal Logging masih tetap tinggi, ada tiga hal yang menyebabkan kasus Illegal Logging tetap sustain, pertama lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku atau cukong besar, wilayah penegakan hukum illegal logging masih bermain pada wilayah pelaku lapangan, kedua, masih banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan menebang hutan, ketiga, proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang masih membutuhkan bahan baku kayu dan ketidakjelasan standart legalitas penggunaan kayu oleh BRR. 

Penyebab utama banjir bandang yang kerap terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah akibat rusaknya relasi antara tutupan hutan dan Daerah Aliran Sungai, berkurangnya luas tutupan hutan selain dari konversi peruntukkan lahan juga berasal dari pembalakan liar yang terjadi didorong oleh kebutuhan kayu untuk proses rekonstruksi. 

Carut-marut pengelolaan Sumber Daya Alam ini juga diikuti oleh carut-marutnya penyusunan Tata Ruang Provinsi dan Kabupaten/Kota yang seharusnya mampu meminimalkan daya rusak lingkungan akibat Eksploitasi yang berlebihan. 

 

Kondisi Tahun 2007 

Banjir bandang diikuti tanah longsor akan tetap mengintai pada wilayah-wilayah dengan kondisi tutupan hutan dan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang telah rusak diatas 50 persen. Sementara itu, angka kasus pencurian kayu (illegal logging) akan semakin meningkat di hutan alam aceh seiring dengan kebutuhan kayu untuk proses rehablitasi dan rekonstruksi Aceh yang belum mempunyai standart legalitas kayu. 

Kebijakan yang diambil oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh (BRR) akan tetap memberikan effect domino yang besar terhadap kehancuran Ekologi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pembangunan fisik dan pembukaan jalan di wilayah kawasan hutan, akan tetap mewarnai proses Rekonstruksi di tahun 2007. 

Wilayah pesisir dan laut yang telah rusak akibat tsunami akan tetap mengalami tekanan konversi, rencana industrialisasi tambak di Pantai utara dan timur Provinsi NAD seluas kurang lebih 100 ha kian memperparah kondisi pesisir dan laut. 

Eksploitasi industri keruk (tambang mineral) di tahun 2007, akan menandai cepatnya laju kerusakan lingkungan, terbukanya arus investasi di Aceh mempercepat masuknya perusahaan-perusahaan industri keruk di wilayah pantai barat-selatan dan wilayah tengah. Eksploitasi dengan system open pit (penambangan terbuka) akan lebih berbahaya melebihi kerusakan hutan yang dilakukan oleh pembalak liar. 

Laju Kerusakan lingkungan yang terjadi pada tahun 2007, juga didukung oleh penataan ruang di wilayah provinsi dan kabupaten/kota yang lebih mengedepankan kepentingan ekonomi, tanpa mampu menjamin tiga hak dasar masyarakat yang sangat penting, pertama, Hak untuk bebas dan terhindar dari Bencana Ekologis, kedua, Hak untuk bebas berusaha secara ekonomi atau bebas dari penggusuran, ketiga, Hak untuk bebas berinteraksi sosial dan berkebudayaan. 

Untuk mengurangi laju kerusakan lingkungan yang kian meningkat, prasyarat utama adalah melakukan perubahan paradigma kebijakan yang integral antara paradigma pembangunan dan perlindungan (protected area), perubahan paradigma ini tidak saja dilakukan terhadap regulasi atau kebijakan setingkat Undang-Undang sampai Qanun, tetapi juga diperlukan Visi, Misi, strategi dan implementasi yang efektif dan efisien. 

Perubahan paradigma kebijakan hingga ke Strategi dan Implementasinya mutlak dilakukan oleh Pemerintah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, pemerintah Kabupaten/Kota, dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias sebagai pemangku kepentingan yang berperan besar dalam pembangunan kembali Aceh. (selesai)

Categories: Dewa Gumay :::