Prologue :
27 Mei 2006, Selamat Jalan Ibuku, Baktiku tak akan usai tersampai hayatmu, walau jasadmu terakhir tak sedelik mata kulihat, Ombak-mu telah singgah dikarangku tahmidku untuk kelapangan Jalan-mu, Sesungguhnya ! Tuhan memberikan aku Banyak Ibu, yang hari ini masih kelaparan di jalan desa, kota, dan pelosok negeri lainnya, ditindas, dilukai, dihina dan dirampas haknya, tidakkah ini kemalangan yang lebih malang dari kehilangan seorang Ibu, Aku meyakini kebahagian mereka adalah Kebahagian Ibuku di Akhirat, Amin. Tuhan masih bersama orang-orang Berani.
Dalam sudut mata yang tajam
Sangat jelas kugambarkan
Sosok yang mengawalkan kehidupanku
Dalam diam aku menangis
Dalam diam aku tetap menangis
Tak ada yang tahu aku menangis
Tak juga mata zohir
Jauh didalam sana teriris
Tak ada cerita …
Tentang kehilangan
Tentang pahit getir
Tentang kebodohan kita
Oh ……..
Sisakanlah satu cerita
Satu kenangan
Satu dongeng
Satu Impian kita
Sampai Khabar tersampai
Sampai itulah aku ikhlas
Ya … Rabbi,
Ikhlasku melebihi apapun
Ikhlasku tak akan berpendar
Dalam sudut rumah kita
Aku pasti mendapati sosoknya
Sosok yang selalu riang
Sekarang …
Setiap sudut rumah
Aku pun mendapati sosoknya
Sesuatu kenangan kita
Kita dan keluarga
Orang-orang yang kita cintai
Jakarta – Transit,
29 Mei 2006 pukul 08.30 pagi
Sajak Untuk Ibu
08/20/2006 · Leave a Comment
Categories: Goemay :::



0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.