Feeds:
Tulisan
Komentar

Oleh Dewa Gumay

click in Bahasa

AGENCY of Business miner, government, and economic expert, smart in frame mining investment, such as mineral mining, oil, and gas. Beginning of frame foreign exchange, provide employment, speedy economic growth, until reduce of poor statistic. ‘Framing’ perfect, yet, truly mining industry will be bringing prosperity for people.

There is a joke, which said often by group of pro mining while comment critical attitude from peoples refuse attendance mining industry, its site. More or less, ‘If not agree with mining, back again to Palaeolithic era, and never using equipment from mineral raw’. This joke they are doing as philosophy suicide on disability them to explaining relation with mining and prosperity which truly not positive relation. Lanjut Baca »

By Dewa Gumay

click in bahasa

PROGRESS of environmental issues on this decade, happening progress very fast, beginning from environmental degradation, conservation, and the new issue is scheme of Payment of Environmental Services (PES).

Actually, basis for PES theory was arise fifty years a go from a Britain economist at the Chicago University, Ronald Harry Coase in its article The Problem of Social Cost on 1960. On its article, Coase accept Economic Nobel on 1991. According to Coase, “in as much as environment loss gets monetary character therefore attained optimal solution will same, despite on whom property rights is given. Lanjut Baca »

Pembayaran Jasa Lingkungan

Oleh Dewa Gumay

DINAMIKA issue lingkungan pada dekade ini, mengalami perkembangan sangat cepat, mulai dari issue degradasi lingkungan, konservasi, dan yang paling baru adalah skema tentang pembayaran terhadap jasa lingkungan atau dikenal dengan Payment for Environmental Services (PES).

Walaupun sebenarnya landasan teori tentang PES telah muncul puluhan tahun lalu dari seorang ekonom Britania Raya dan Profesor Ekonomi di Universitas Chicago, Ronald Harry Coase dalam artikelnya The Problem of Social Cost pada tahun 1960, atas karyanya tersebut Coase menerima hadiah Nobel bidang ekonomi pada tahun 1991. menurut Coase, sejauh kerugian lingkungan bersifat moneter maka solusi optimal yang tercapai akan sama, terlepas dari kepada siapa property rights diberikan. Lanjut Baca »

Oleh Dewa Gumay

KENEUBAH Endatu atau pusaka leluhur mempunyai banyak ragam, pada bagian ini, saya akan mengulas dari tinjauan pengelolaan sumber daya hutan di Aceh. Jejak keneubah endatu dapat ditelusuri melalui berbagai sumber, baik melalui tulisan maupun tradisi yang masih digunakan dalam keseharian masyarakat Aceh yang berada disekitar hutan.

Ulasan ini saya mulai dari pandangan Snouck Hurgronje dalam bukunya de Atjehers (1893) menuliskan, barang siapa menggarap rimba atau mengumpulkan hasil –hasil hutan adalah bebas seluruhnya. Satu –satunya pembatasan kebebasan tersebut adalah jika seseorang hendak membuka ladang, kebun atau sawah yang letaknya berdekatan dengan tanah yang telah digarap orang lain, maka wajib meminta izin kepada pemimpin daerah yang bersangkutan, dalam hal ini Imuem Mukim. Lanjut Baca »

Kompilasi

INGUB No. 5 Tahun 2007 / Moratorium Logging

Oleh Dewa Gumay

DUA tahun lalu, tepatnya 6 Juni 2007, Gubernur Pemerintah Aceh mengeluarkan gagasan dan strategi bagaimana menyelamatkan hutan Aceh yang tersisa. Gagasan ini kemudian menjadi kongkriet dengan keluarnya Instruksi Gubernur No. 5 tahun 2007 tentang jeda tebang untuk hutan alam, atau lebih popular dengan istilah moratorium logging.

Lanjut Baca »

Bersaksi Atas Nama Pinus

Oleh Dewa Gumay

MEMASUKI cagar alam jantho, sebuah papan nama bercat dasar hijau bertuliskan “Cagar Alam Pinus Jantho 16.600 ha”. Di bawahnya tumbuh alang-alang setinggi lutut. Tak jauh dari papan nama tersebut, puluhan pohon pinus berdiri tegak menghitam habis terbakar.

Hampir delapan kilometer memasuki kawasan cagar alam, jalan tanah merah mulai tertutup alang-alang, jalan mulai mendaki. Selang dua puluh meter di depan, hawa panas di sertai suara gemeretak alang-alang terbakar memanjang di kanan jalan.

Sejak proyek jalan Jantho menuju Keumala tahun 1991 menembus kawasan ini, hampir setiap musim kemarau ratusan pohon pinus di lalap api, penyebabnya tidak jelas. Proyek jalan ini akhirnya di hentikan tahun 1992 oleh Departemen Kehutanan, karena melanggar undang-undang. Tapi, delapan kilometer jalan tanah sudah menembus jantung kawasan, sejak itu kawasan ini tidak perawan lagi. Pembalak liar dan perburuhan satwa semakin marak dengan terbukanya kawasan ini.

Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »